"Saya minta maaf karena terbawa emosi waktu itu. Saya janji hal itu tidak akan terulang lagi," ucap Leonardi.
Emely menggigit bibir bawahnya, menunduk, lalu berkata lirih, "Jangan pernah berjanji untuk sesuatu yang tak pasti."
Kenangan mengenai pernikahannya dengan Aji selama 3 tahun terakhir, seketika berputar di dalam benaknya. Segala janji dan harapan yang pernah Aji ucapkan padanya, sekarang ikut terkubur bersama dengan jasad sang suami.
“Emely …” Leonardi menatap Emely yang kini memeluk dirinya sendiri seolah takut dunia kembali menyakitinya.
"Apa kamu mau saya bantu untuk membalaskan rasa sakit hati pada mereka yang telah membuat hidupmu menderita? Anggap saja ini sebagai bonus karena telah menjadi ibu s**u Aluna."
Emely menoleh dan menatap Leonardi tak percaya. Wanita itu terdiam lama sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar, "Untuk apa saya membalas mereka? Saya sudah kehilangan banyak dan tidak ingin pembalasan dendam ini melukai saya lebih dalam. Tujuan saya sekarang hanya ingin mengambil Carmen."
"Tapi untuk mengambil putrimu, kamu harus siap melakukan apapun termasuk menghancurkan keluarga mendiang suamimu."
Kalimat itu menghantam d**a Emely seperti palu godam. Untuk sesaat, dia kehilangan kata-kata. Perkataan Leonardi memang tepat, tapi Emely enggan mengakuinya.
Keheningan kembali terjadi sebelum Leonardi akhirnya kembali berbicara. "Untuk malam ini menginaplah di rumahku. Bahaya jika kamu pulang selarut ini."
Emely menunduk, pikirannya berkecamuk. Bagian dari dirinya ingin menolak dan menunjukkan bahwa dia bisa tetap tegar. Tapi tubuhnya begitu lelah, dan hatinya sudah terlalu remuk untuk terus menanggung semuanya sendirian.
"Baik," jawabnya lirih. "Tapi hanya malam ini saja."
Leonardi mengangguk, lalu mengalihkan pandangan ke jendela, memperhatikan rintik hujan yang mulai turun.
Setibanya di rumah mewah Leonardi, kali ini seorang satpam membuka pintu gerbang saat Leonardi dan Emely turun dari taxi. Bukan pintu otomatis seperti tempo hari.
"Saya hanya ingin mereka bekerja seperti seharusnya, bukannya malah bersantai," ucap Leonardi yang mengerti kebingungan Emely.
Emely hanya dapat menyunggingkan senyum canggung dan mengikuti langkah Leonardi. Suasana familiar kembali menyapa, hanya kali ini dia tak begitu terkejut dengan interior dan barang mewah yang ada di dalam rumah berlantai dua itu.
Begitu tiba di dapur yang memiliki kitchen set yang lengkap itu, Leonardi mengambilkan segelas air hangat untuk dirinya dan Emely.
“Minumlah dulu baru mandi, nanti akan saya siapkan baju ganti termasuk dalamannya. Tenang saja dalaman itu masih baru karena belum sempat dipakai mamanya Aluna."
Wajah Emely memerah karena Leonardi membahas itu dengan ringan, seakan-akan sedang membahas sesuatu yang umum.
"Pak Leo ... bukankah membicarakan pakaian dalam itu adalah hal yang pribadi?" protes Emely yang lalu mengigit bibirnya, merasa bodoh karena mengungkit hal yang sensitif seperti itu.
"Meskipun itu hal yang pribadi, tapi semua orang mengenakannya. Dan lagi di sini hanya ada kita berdua, jadi untuk apa kamu merasa risih?" ucap Leonardi dengan raut wajah datar.
Emely hanya dapat menghela napas kasar, menyadari jika sia-sia meladeni perkataan Leonardi. Dia segera menghabiskan air itu lalu beranjak ke dalam kamar yang terletak di lantai dua.
Di dalam kamar mandi, Emely menatap cermin dan tersadar jika wajahnya tidak secerah sebelum melahirkan. Lingkaran hitam di bawah mata, kulit pucat dan tatapan kosong seolah menjadi cermin dari beban hidup yang dia pikul sendirian setelah sang suami meninggal.
Emely mengusap wajahnya dengan air, mencoba menenangkan diri, lalu perlahan melepaskan pakaiannya yang masih beraroma asap dari kecelakaan tadi.
Setelah mandi dengan air hangat, tubuhnya terasa sedikit lebih ringan. Saat keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh dan rambut yang basah, matanya menangkap sebuah kantung berwarna pastel di atas ranjang. Di dalamnya ada piyama dan satu set pakaian dalam. Ada secarik kertas kecil yang diletakkan Leonardi di sana.
'Kalau kurang nyaman, tinggal bilang saja, tidak perlu sungkan. —Leonardi.'
Emely menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus merasa seperti apa. Perhatian Leonardi memang membuatnya sedikit tenang, tapi bagian lain dari dirinya berkata jika pria itu melakukannya demi Aluna.
Setelah berganti pakaian, Emely turun ke ruang tamu dan mendapati Leonardi sedang duduk di sofa, membaca dokumen dengan kacamata baca tipis. Lampu ruangan tidak terlalu terang, hanya cukup untuk menciptakan suasana tenang.
"Sudah merasa lebih segar?" tanya Leonardi menoleh sekilas pada Emely.
"Iya, rasanya jauh lebih segar," jawab Emely pelan. "Terima kasih untuk bajunya. Semuanya pas."
Leonardi menurunkan dokumennya, menatap Emely yang kini menyisakan gurat kelelahan. "Kamu mau makan?"
Emely menggeleng. “Saya cuma ingin tidur dan ingin mengucapkan selamat malam sama Bapak."
Leonardi berdiri. "Buat dirimu senyaman mungkin. Karena setelah Aluna keluar dari rumah sakit, kamu akan tinggal di sini. Dan lagi jangan memanggil Bapak saat di luar kantor, panggil saja seperti pertama kali kita bertemu."
Emely menunduk, berusaha menahan senyum kecil yang tiba-tiba muncul. Dia memanggil Leonardi dengan panggilan "Mas" pada pertemuan pertama mereka.
“Kalau begitu ... selamat malam, Mas Leon,” ucap Emely pelan, hampir seperti bisikan.
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sambil menatap Emely dalam diam. Tatapan itu tak lagi dingin seperti biasanya, tapi menyimpan sesuatu yang tak dapat Emely terjemahkan.
Emely pamit dan kembali ke kamar tamu. Begitu menutup pintu, dia bersandar di baliknya. d**a Emely terasa aneh. Ada rasa hangat yang perlahan merambat, tapi segera dia tepis.
'Jangan bodoh, Ly. Dia hanya merasa kasihan sama kamu. Dan juga ... semua ini demi Aluna,' gumam Emely di dalam hati.
Sementara itu, di ruang tamu, Leonardi menatap kosong ke arah dokumen yang kini terbengkalai di pangkuannya. Pikirannya melayang—bukan pada proyek perusahaan dan angka-angka, tapi pada wanita yang kini tidur di bawah atap yang sama dengannya.
Wanita yang mungkin mulai memasuki hatinya dengan cara yang tidak dia sangka. Namun, beberapa saat kemudian bayangan Amelia mulai memenuhi pikirannya. Peluh mulai menetes deras dari pori-pori tubuhnya, membuat kaus yang dikenakan olehnya basah.
Napasnya pun memburu, dengan rasa sesak yang tiba-tiba melanda dadanya. Dia menggeram kasar dan mencoba untuk mengatasi serangan panik yang kerap muncul setelah Amelia meninggal. Sebuah proyeksi rasa bersalah, penyesalan dan amarah yang bercampur menjadi satu di dalam dirinya.
Dengan langkah goyah, Leonardi berdiri dari sofa dan berjalan ke arah dapur. Tangannya gemetar saat ia meraih botol air dingin dari dalam kulkas. Satu tegukan. Dua tegukan. Tapi rasa sesak itu tetap menempel di dadanya, menolak pergi.
Dia bersandar di meja dapur, kedua telapak tangannya mencengkeram kuat permukaan granit, seolah berusaha menahan tubuhnya agar tidak roboh. Bayangan Amelia—wajahnya, tangis terakhirnya, darah yang membasahi sprei rumah sakit—semuanya datang seperti hantaman gelombang yang tak bisa dihindari.
"Aku minta maaf, Mel ..." bisiknya pelan. "Karena selalu melukai hati kamu, padahal aku sudah mempersiapkan pernikahan kita saat kamu lepas dari masa nifas. Tapi kamu malah meninggalkan aku selamanya. Apa ini hukuman yang kamu berikan padaku?"
Leonardi memejamkan mata, mencoba mengatur napas yang masih tersengal. Namun, kesedihan itu begitu pekat, menyelimutinya dalam keheningan malam.