12. Bisik-bisik Tak Sedap

1174 Kata
Rintik hujan berubah menjadi deras, membuat suasana malam itu menjadi semakin dingin. Leonardi masih bersandar di meja dapur, matanya memerah tapi kering. Dia sudah kehabisan air mata sejak Amelia dimakamkan. Setelah bergulat dengan bayangan masa lalu, akhirnya erangan panik Leonardi menghilang sepenuhnya. Dia memutuskan untuk tidur karena jam sudah menunjukkan angka dua. Sebab saat matahari mulai muncul, dia harus menjalankan rutinitas hariannya sebagai CEO dan juga sebagai seorang ayah. Leonardi melangkah pelan menuju kamarnya, namun berhenti saat tiba di depan kamar Emely. Bayang-bayang wajah wanita itu terlintas di dalamnya benaknya. Wajah yang menyimpan luka itu mengusik relung hati Leonardi terdalam. Leonardi menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Tangannya terangkat, nyaris mengetuk, tapi ia urungkan. Ada keraguan yang menghantui dirinya. Dia takut, bukan pada Emely—melainkan pada dirinya sendiri. Takut jika perasaan yang mulai tumbuh itu hanyalah bentuk pelarian dari luka yang belum sembuh. Takut jika dia memaksa wanita itu masuk ke dalam dunianya yang masih dipenuhi bayang-bayang masa lalu. Akhirnya, Leonardi hanya berdiri di sana selama beberapa detik sebelum melangkah pergi menuju kamarnya sendiri. Malam itu ia tertidur tanpa mimpi. Hanya kelelahan yang akhirnya memaksa tubuhnya terlelap. *** Pagi harinya, sinar matahari menyusup masuk melalui celah tirai besar di kamar tamu. Emely terbangun lebih awal dari biasanya. Suara kicauan burung yang berada di luar jendela besar kamar itu membelai indra pendengarannya. Setelah melakukan peregangan, Emely berniat untuk membuat sarapan untuk Leonardi sebagai tanda terima kasih untuk pria itu. Namun, Emely dibuat terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya yang sudah selesai mempersiapkan bahan untuk membuat sarapan. "Mbak ini pasti Mbak Emely, ya. Perkenalkan saya Tini yang bertugas untuk membuat makanan di rumah ini. Panggil saja saya Mbok Tini. Barusan Pak Leo bilang kalau Mbak yang akan menjadi ibu susunya Non Luna," ucap wanita yang mulai mengocok tiga buah telur. Emely hanya mengangguk dan otomatis melangkah menuju wanita yang sekarang mulai memasak itu. Bahkan dia juga menawarkan bantuan. Awalnya Mbok Tini menolak karena merasa sungkan, tapi akhirnya membiarkan karena Emely bersikeras membantu. "Saya harap nanti Non Luna badannya semakin sehat saat disusui oleh Mbak Emely," ucap Mbok Tini dengan harapan yang tinggi. "Semoga saja ya, Mbok," sahut Emely yang kini mulai mempersiapkan beberapa piring untuk lauk dan sayur. 15 menit kemudian, sarapan pun tersaji dan Emely berniat untuk mandi sebelum berangkat ke kantor. Dia tertegun saat melihat Leonardi berada di depan pintu kamarnya, mengenakan kemeja berwarna navy yang dilipat di bagian lengan dan celana kain hitam. Rambutnya masih sedikit basah, menunjukkan bahwa pria itu baru saja selesai mandi. “Pagi,” sapa Emely pelan. Leonardi menoleh dan hanya mengangguk singkat. “Pagi juga. Apa kamu tidur nyenyak?” Emely mengangguk. “Lumayan.” “Baguslah kalau begitu. Cepat mandi lalu sarapan biar kita tidak terlambat ke kantor." Titah Leonardi. Emely terkejut. “Mas Leon enggak perlu repot-repot. Saya bisa naik taksi atau—” “Tidak. Kamu bagian dari hidup Aluna sekarang. Dan saya tidak bisa sembarangan membiarkan kamu ke mana-mana sendiri mulai sekarang," potong Leonardi dengan nada memerintah. "Saya juga sudah menyiapkan pakaian yang cocok untuk ke kantor. Saya tunggu di ruang makan," ucap Leonardi yang lalu menuruni anak tangga meninggalkan Emely dalam keterpakuannya. Emely hanya dapat terdiam. Ucapan Leonardi terdengar sederhana, tapi entah mengapa dapat menghangatkan hatinya. Beberapa menit kemudian, mereka sarapan bersama di meja makan yang besar dan mewah itu. Suasana sedikit canggung, tapi tak terlalu dingin. Leonardi lebih banyak diam, tapi Emely menangkap bahwa pria itu sesekali mencuri pandang ke arahnya, seakan ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya. Seusai sarapan, Leonardi hanya berkata singkat bahwa mobil sudah siap dan mereka harus segera berangkat. Emely kembali ke kamar untuk mengambil tas dan mengecek penampilannya sekilas di cermin. Untuk alasan yang tak Emely pahami, pagi ini dia terlihat sedikit lebih rapi. Entah karena efek pakaian yang dikenakannya atau suasana hatinya yang mulai membaik. Selama perjalanan menuju kantor, suasana di dalam mobil terasa lebih nyaman dibanding meja makan tadi. Leonardi tetap tenang di balik kemudi, sembari sesekali menoleh ke arah Emely. "Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Leonardi tiba-tiba. "Saya sedang berusaha beradaptasi dengan lingkungan dan pekerjaan baru," jawab Emely cepat. Leonardi mengangguk pelan. "Kalau ada yang menyulitkan, langsung bilang ke atasanmu atau kamu bisa cerita sama saya. Jangan dipendam sendiri, nanti jadi penyakit.” Emely menoleh lalu tersebut tipis. "Saya tidak mau sembarangan menggunakan koneksi, Mas." Pria itu tersenyum samar. "Kenapa tidak? Jika itu dapat meringankan beban pekerjaanmu, maka lakukanlah." Emely menghela napas kasar sebelum kembali berbicara. "Sayangnya, semua itu tidak sesederhana yang Bapak pikirkan." Leonardi mengernyit saat Emely tiba-tiba mengganti panggilan untuknya, tapi dia hanya diam menanti hal apa yang akan dilakukan oleh wanita yang duduk di sampingnya itu. "Pak. Saya turun di sini saja," ucap Emely sembari menunjuk halte Transjakarta yang berjarak 1 kilometer dari gedung kantor. Leonardi mengangkat sebelah alisnya seakan berkata "Kenapa" kepada Emely. "Saya tidak mau menimbulkan gosip yang tidak-tidak, Pak," jawab Emely dengan suara lantang. "Baiklah. Kalau ini kemauan kamu." Leonardi akhirnya menghentikan mobilnya tepat pada tempat yang ditunjuk oleh Emely. Wanita itu segera berlari mengejar bus yang sudah siap berangkat, menunggu bis yang ada di depannya dipenuhi oleh penumpang. Setelah berjibaku dengan lalu lintas yang mulai padat, akhirnya Emely tiba di kantor 10 menit sebelum jam kerja dimulai. Emely menghela napas lega, lalu memutuskan ke pantry untuk membuat segelas s**u coklat. Tadinya dia ingin membuat kopi, namun teringat jika harus menyusui Aluna. Dia tidak mau mencemari ASI miliknya dengan mengkonsumsi makanan yang bukan-bukan. "Wah Ly. Baju kamu bagus banget pas sama badan kamu," puji Yulia tulus saat Emely memasuki ruang divisi pemasaran. "Iya. Ly. Kamu cocok banget pakai baju itu. Kelihatan lebih muda," timpal rekan yang lain. Emely tersenyum kecil, berusaha tetap tenang menghadapi pujian yang terasa lebih seperti sindiran halus itu. Dia hanya mengangguk singkat sambil duduk di mejanya, membuka laptop dan mencoba fokus pada pekerjaan yang telah diberikan oleh Yulia. Namun, bisik-bisik tak pelak kembali terdengar telinganya. "Pakaiannya kayak bukan punya dia, ya?” “Iya, itu 'kan baju mahal. Mana mungkin dia bisa membelinya." “Gila! Jangan-jangan baju itu dikasih sama pria kaya. Siapa sangka di balik tampilannya yang polos, dia ternyata cewek nggak bener." Kali ini Melania menambahkan bumbu agar dapat menjatuhkan Emely. Emely pura-pura tidak mendengar, dia mengetik cepat sembari membuka dokumen-dokumen yang harus diperbaiki. Namun tak lama kemudian, tangannya mengepal kuat serta bergetar, menandakan jika Emely sedang menguasai amarahnya. Dia lalu meneguk s**u coklatnya untuk menenangkan diri, tapi sayangnya itu tak membantu. Sebuah tepukan pada pundaknya membuat Emely menoleh dan melihat Yulia yang sedang menatapnya dengan cemas. Wanita hamil itu tidak berada di ruang divisi pemasaran karena Bu Nadia yang memanggilnya. Jadi dia tak terlalu tahu apa yang sedang mereka gunjingkan mengenai Emely. "Jangan terlalu dipikirkan, mereka hanya sedang iri dengan kemampuan kamu yang berkembang pesat." Hanya kalimat itu yang dapat Yulia katakan untuk menghibur Emely. Yulia lalu mengusap perutnya yang terkena tendangan dari janinnya. Emely otomatis tersenyum saat melihat pemandangan itu, dia teringat saat sedang mengandung Carmen dan betapa siaganya Aji mendampinginya dari masa kehamilan sampai melahirkan. Tanpa dapat dicegah, air mata Emely menetes deras dan membuat Yulia menjadi panik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN