6. ASI Tak Pernah Berbohong

1150 Kata
Sementara itu di rumah sakit, Aluna terus saja menangis dan tak mau meminum ASI. Padahal Leonardi mendapatkan ASI itu dari beberapa ibu menyusui yang mendonorkan ASInya. Pria itu terlihat semakin frustrasi memikirkan nasib sang putri yang semakin terlihat pucat di ruangan NICU. "Pak Leo. Dengan kondisi Aluna yang lemah seperti ini, satu-satunya jalan agar asupan gizinya tercukupi adalah memasukkan s**u anti alergi melalui selang infus," ucap dokter anak. "Lakukan yang terbaik menurut Dokter, saya akan menurutinya," ujar Leonardi dengan nada pasrah. Dokter itu mengangguk dan segera meminta perawat untuk mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Sepeninggal dokter dan perawat, Leonardi hanya melamun sampai tak menyadari kehadiran Rina di ruang perawatan Aluna. Wanita itu merasa prihatin melihat kondisi ayah dan anak itu yang menggenaskan. "Leo. Aluna sakit apa?" tanya Rina yang menarik kesadaran Leonardi. "Aluna terkena alergi, Mah. Dan mungkin sebentar lagi dokter akan menemukan penyebab alerginya," jawab Leonardi sembari meremas kepalanya yang terasa pusing. Rina yang melihat Leonardi tampak lelah segera meminta pria itu untuk beristirahat sejenak. Namun, dengan tegas Leonardi menolak usulan itu. Dia tak rela meninggalkan Aluna, meskipun sudah ada Dena yang menjaga sang putri. Tak lama seorang dokter wanita yang diikuti oleh dua perawat memasuki ruangan dengan wajah serius. Dokter itu membawa sebuah map berisi hasil observasi terbaru terhadap kondisi Aluna. “Pak Leonardi,” ucap dokter itu sambil menatap pria yang kini berdiri dengan cemas, “Kami sudah menemukan penyebab alergi Aluna. Dia mengalami reaksi alergi terhadap protein dalam ASI yang tidak cocok dengan tubuhnya.” Leonardi mengernyit. “Tapi ... semua ASI itu sudah diperiksa sebelum saya setuju untuk menerima donor ASI. Jadi kenapa reaksi alerginya baru muncul sekarang?" Sang dokter menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Leonardi. “Memang benar jika semua pendonor ASI sudah melewati tes dasar, tapi sistem kekebalan bayi sangat sensitif. Reaksi alergi bisa muncul sewaktu-waktu, meski kandungan ASI secara umum dianggap aman. Dan kabar baiknya ada hanya satu sampel ASI yang tidak memicu reaksi Aluna sama sekali.” Leonardi menajamkan mata. “Satu sampel?” Dokter mengangguk dan membuka mapnya. “Dari hasil laboratorium, hanya satu ASI yang tidak memicu alergi Aluna. ASI yang berada di dalam botol susu." Mata Leonardi mengerjab, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sampel itu adalah ASI dari Emily, wanita yang telah dia tuduh mencelakakan nyawa Aluna. "Tapi bagaimana mungkin Aluna menunjukkan reaksi alergi setelah disusui oleh wanita itu?" tanya Leonardi yang menyuarakan kebingungannya. "Reaksi alergi kadang tidak secepat yang kita duga, Pak. Untung saja Aluna mendapatkan ASI yang sesuai dengan tubuhnya, sehingga dapat meringankan gejala alergi yang muncul. Saya menyarankan Aluna hanya diberikan ASI oleh satu ibu menyusui, agar tidak terjadi reaksi alergi berlebihan nantinya." Dunia seakan berhenti berputar bagi Leonardi saat mendengar penjelasan dokter. Emely. Nama itu menggema kuat dalam benaknya, bersama semua ucapan kasarnya dan tuduhannya terhadap wanita itu. Leonardi merasa dadanya dipukul keras oleh rasa bersalah. “Jadi ... Aluna harus mendapatkan ASI dari Emely?” gumam Leonardi yang seolah ingin menyakinkan dirinya. “Benar, Pak. Saat ini mungkin Aluna terbantu dengan cairan infus dan s**u yang masuk secara bersamaan pada tubuhnya. Tapi alangkah baiknya jika Aluna mendapatkan ASI langsung dari sumbernya," jelas sang dokter. Rina menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Leo ... siapapun ibu ASI itu, kamu harus membawanya kembali. Demi Aluna.” Leonardi menunduk. Suaranya pelan, penuh penyesalan. “Tapi aku sudah menyakitinya, Mah ... Aku sudah mengusir dan menuduhnya macam-macam ....” Rina menggenggam tangan putranya. “Seorang ibu yang menyusui dengan tulus tidak akan memikirkan balasan apapun. Kalau kamu datang dengan hati yang tulus, dia pasti akan memaafkan kesalahanmu.” Leonardi mengangguk pelan. “Aku akan mengerahkan orang-orangku untuk mencarinya, Mah." Setelah mengatakan itu, Leonardi menghubungi seseorang, dia menceritakan dengan detail ciri fisik Emely. "Kalau sudah mengerti, cepat temukan wanita itu. Tak peduli jika kalian harus membongkar sarang semut sekalipun." Titah Leonardi yang lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dan di ujung ruangan, Dena yang sejak tadi mendengar percakapan Leonardi dan Rina, menggeram di dalam hatinya. Jika Leonardi berhasil menemukan Emely, bukan tidak mungkin posisinya sebagai pengasuh Aluna akan digantikan oleh Emely. ''Aku tidak akan membiarkan wanita itu menggeser posisiku sebagai pengasuh Aluna," gumam Dena dengan tangan mengepal erat. *** Tak terasa sudah tiga hari Leonardi mencari Emely dan dia belum berhasil menemukan di mana keberadaan wanita itu. Sementara Aluna masih harus dirawat secara intensif agar kondisinya tidak terlalu membahayakan. "Mah. Bisa tolong jaga Luna sampai aku kembali dari kantor. David bilang aku harus menghadiri meeting internal di perusahaan siang ini," tanya Leonardi. Rina yang baru saja tiba tentu saja menyanggupi permintaan itu. Lagipula dia tidak terlalu percaya dengan Dena. Namun sayangnya, hanya perempuan muda itu yang lolos kualifikasi untuk menjadi pengasuh Aluna. Suasana kantor terasa mencekam saat Leonardi menginjakkan kaki, semua karyawan merasa tegang saat menghadapi aura dingin pria itu. Tapi semua orang memaklumi hal itu, karena Leonardi baru kehilangan wanita yang sangat dia cintai untuk selamanya saat melahirkan. "Pak. Divisi pemasaran sudah menemukan pengganti Yulia yang akan berhenti. Dia mulai masuk kemarin dan menurut laporan dari Bu Nadia, kerjanya cukup rapi dan cepat," lapor David yang membuat Leonardi mengerutkan dahinya. "Sejak kapan saya harus ikut campur dalam perekrutan pegawai? Itu tugas HRD dan divisi yang membutuhkannya." David meringis saat mendengar nada datar yang keluar dari bibir Leonardi. "Saya hanya sebatas melaporkan, Pak. Dan juga agar Bapak tidak terkejut saat melihat wajah baru saat meeting nanti," kata David setelah terdiam beberapa saat. Leonardi hanya berjalan menuju lift tanpa memberikan reaksi apapun, membuat sekertarisnya bingung dengan apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. Setelah makan siang, Leonardi menuju ruangan meeting utama, dengan David berada di belakangnya sambil membawa tablet dan beberapa berkas penting. Saat Leonardi membuka pintu ruang meeting, matanya langsung menyapu ruangan. Beberapa kepala menoleh dan berdiri untuk menyambut kedatangannya. Namun, pandangan Leonardi terhenti pada satu sosok yang duduk di ujung meja—wanita dengan wajah teduh, rambut diikat rapi, dan pandangan mata yang begitu dikenalinya. Emely. Untuk sesaat, dunia kembali berhenti bagi Leonardi. Dia hanya mematung di ambang pintu, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang telah dia cari dengan segala daya dan upaya, kini duduk tak lebih dari tiga meter darinya. Bekerja di perusahaannya sendiri, Leonardi pun tertawa dalam hati saat takdir begitu lucu dalam mempermaikannya. Emely yang sedang mencatat poin-poin rapat, perlahan mengangkat wajahnya. Matanya langsung bertemu dengan tatapan Leonardi yang terpaku padanya. Seketika wajahnya memudar, bahkan pena di tangannya terlepas dan memantul di meja. “Kamu …,” ucap Leonardi lirih, tak peduli jika semua mata menyaksikan interaksi keduanya. Emely langsung berdiri, sedikit gugup dan mencoba menjaga sikap profesionalnya. “Selamat siang, Pak. Perkenalan saya Emely, staf baru di divisi pemasaran.” Leonardi melangkah mendekat mencoba untuk tegas, namun sayang suaranya terdengar serak. “Kamu ... ke ruangan saya setelah meeting ini berakhir." Tak pelak ucapan Leonardi, membuat suasana di dalam ruangan meeting menjadi riuh. Dalam hatinya Emely hanya dapat pasrah jika kehidupannya mulai saat ini di kantor tidak akan berjalan dengan lancar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN