Panggilan itu membuat Emely berbalik perlahan. Matanya bertemu dengan tatapan Leonardi yang entah kenapa, kini terlihat lebih rumit dan dalam.
"Terima kasih ... karena sudah menyelamatkan Luna," ucap Leonardi setelah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Emely terdiam. Hatinya perih mendengar ucapan sederhana itu, tapi dia tetap menunduk, tidak berani menatap mata Leonardi lebih lama.
"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Mas," jawab Emely pelan.
Merasa tak ada lagi yang ingin Leonardi sampaikan, membuat Emely membuka pintu perlahan dan membiarkan udara pagi yang dingin menyapa kulitnya. Dengan satu tarikan napas panjang, Emely melangkah pergi, meninggalkan rumah Leonardi dengan perasaan bersalah yang mendalam karena telah membuat Aluna sakit.
Matahari baru menampakkan dirinya saat Emely berjalan menyusuri gang-gang kecil untuk mencari kontrakan. Dengan sisa tabungan yang cukup untuk 3 bulan, Emely bertekad untuk mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
Setelah berjalan cukup jauh, Emely menemukan sebuah kontrakan dengan tarif Rp 1.000.000,- sebulan. Kontrakan yang sudah dilengkapi dengan ranjang, lemari plastik, kipas angin dan memiliki kamar mandi dalam. Tanpa pikir panjang, Emely segera membayar kamar berukuran 6x5 meter itu.
Setelah menaruh koper kecilnya di sudut kamar, Emely duduk di atas ranjang dah menghela napas panjang. Kamar itu sederhana, tapi cukup nyaman. Dia memandang sekeliling, dinding bercat putih yang masih terlihat cerah, bahkan kipas angin yang masih terlihat baru.
'Ini sudah cukup,' batinnya.
Emely lalu mengeluarkan foto kecil Carmen dan mendiang suaminya. Sambil memegang foto itu, air mata Emely kembali menetes mengenai punggung tangannya.
"Aku harus kuat, demi Carmen," gumam Emely sembari menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Setelah beristirahat sejenak, Emely keluar dari kontrakan untuk mencari sarapan sekaligus menyusun rencana untuk masa depannya.
Entah kebetulan atau dewi Fortuna sedang menghampiri Emely, dia mendengar percakapan kedua karyawati yang sedang berjalan. Di mana salah satunya berniat resign, karena akan melahirkan. Dengan menebalkan wajah, Emely menghampiri kedua karyawati itu.
"Permisi Mbak. Saya mendengar ada lowongan kerja buat gantiin Mbak. Apa saya bisa melamar pekerjaan di kantor Mbak?" tanya Emely dengan penuh harap.
Namun ternyata harapannya tak sesuai dengan kenyataan, karena salah satu di antara karyawan itu menampilkan tatapan tajamnya seolah terganggu dengan keberadaan Emely.
Dia segera menundukkan kepala dan tak lama air matanya menetes deras. Dalam hati Emely merutuki dirinya yang mudah menangis akhir-akhir ini.
"Wah Mel. Muka lu kelihatan galak banget sampe Mbak ini nangis," ucap wanita yang satunya.
Melania—perempuan yang dituding galak tadi—menghela napas dan memutar bola matanya sebal. "Gue galak? Dia aja yang cengeng. Baru ditatap begitu aja udah nangis,” katanya dengan nada ketus lalu membuang wajah.
Emely buru-buru mengusap air matanya. “Maaf … saya hanya ... butuh pekerjaan,” ucap Emely pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya terlihat pucat.
Wanita satunya menyapa Emely ramah dan tersenyum kecil. “Saya Yulia. Maaf ya, temen saya memang kadang suka nyolot kalau lagi capek. Wajah kamu pucat sekali, pasti belum makan, ya?” tanyanya sembari memperhatikan wajah Emely.
Emely mengangguk malu. “Belum, Mbak.”
Yulia menoleh ke arah warung makan di seberang jalan. “Kalau begitu, ayo duduk bareng kami sambil sarapan. Habis itu kita ngobrol, siapa tahu kamu bisa bantu di divisi aku yang pasti kekurangan orang setelah aku resign."
Mata Emely membulat. “Serius, Mbak?”
Yulia tersenyum. “Iya, aku mau resign dua bulan lagi karena melahirkan. Di kantor, kami memang butuh pengganti saya dan kamu keliatan butuh kerjaan banget. Tapi keputusan tetap ada di tangan bos, ya. Tapi nggak ada salahnya kita coba aja dulu."
Setelah sarapan sederhana bersama Yulia dan Melania, mereka bertiga berjalan menuju gedung perkantoran berlantai 15. Yulia dan Melania membawa Emely ke divisi marketing, di mana mereka bekerja. Yulia segera mencetak CV serta surat lamaran Emely yang untung saja masih tersimpan di e-mail wanita itu.
Dalam hatinya, Emely juga bersyukur jika dia kebetulan mengenakan pakaian yang layak untuk interview.
Setelah 20 menit berlalu, Emely dipanggil ke ruangan manajer pemasaran untuk melakukan proses wawancara.
“Kamu pernah kerja sebelumnya?” tanya sang manajer dengan nada tegas.
Emely menelan ludah. “Pernah, Bu. Tapi sudah lama sekitar lima tahun yang lalu. Saya bekerja di bagian administrasi."
Sang manajer terdiam setelahnya, membuat perasaan Emely tak karuan. Di titik ini dia pasrah jika seandainya tidak diloloskan bekerja pada perusahaan ini.
Setelah beberapa saat hening, sang manajer pemasaran yang bernama Nadia, menautkan jemarinya di atas meja dan menatap Emely dalam-dalam. “Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Dunia kerja banyak berubah. Apalagi kamu dulu bekerja di bagian administrasi. Tapi saya percaya, orang yang punya kemauan belajar bisa cepat menyesuaikan diri.”
Emely langsung menunduk, menahan haru. “Saya akan belajar, Bu. Saya janji akan bekerja sebaik mungkin.”
Nadia hanya mengangguk tipis. “Kami akan menghubungi kamu dalam dua hari ke depan. Kalau diterima, kamu bisa langsung bekerja mulai minggu depan.”
Emely mengangguk cepat. “Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih atas kesempatannya.”
Setelah keluar dari ruangan itu, Yulia menghampirinya sambil tersenyum. “Gimana hasilnya? Diterima?”
Emely menggeleng pelan. “Belum tahu, Mbak. Katanya tunggu dua hari lagi.”
Yulia menepuk pundaknya pelan. “Tenang aja, Bu Nadia itu punya feeling yang tajam. Kalau dia udah ngomong begitu, kemungkinan besar kamu lolos.”
Emely mengulas sebuah senyum, meskipun dalam hatinya dia merasa ragu apakah dapat bekerja di perusahaan bonafit seperti ini.
"Terima kasih atas dukungannya, Mbak. Kalau begitu saya permisi pulang dulu," ucap Emely setelah memaksakan diri untuk berbicara.
***
Malam itu, Emely berbaring di ranjang kontrakannya dengan d**a yang lebih lapang. Dia merasa ada secercah harapan yang menyusup di sela kekalutan hidupnya. Emely menatap foto Carmen sekali lagi, lalu mengecupnya pelan.
“Mama akan memulai hidup baru, Carmen … doakan Mama agar bisa secepatnya membawa kamu keluar dari rumah itu," gumamnya dengan penuh kerinduan.
Hari pun berganti dan Emely terbangun dengan nyeri pada kedua dadanya, dia menghela napas kasar karena lupa untuk memompa ASInya saat akan tidur. Seandainya saja Carmen bersamanya, pasti sang putri sudah mencari sumber makanannya dan meminumnya sampai puas.
Lagi-lagi air matanya menetes deras dan Emely membiarkan tetesan air itu mengenai punggung tangannya. Setelah puas menangis, Emely menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini Emely berencana mencari pekerjaan lagi, berjaga jika dirinya tidak diterima oleh perusahaan yang pertama.
Setelah selesai sarapan, Emely berniat untuk pergi mencari pekerjaan. Namun, ponselnya berdering dan menampilkan nama tak dikenal di layar.
“Halo?”
“Selamat sore dengan Emely Jonathan. Saya Nadia dari PT Mitra Karya. Selamat, kamu diterima bekerja dan bisa langsung masuk minggu depan. Apakah kamu bersedia bekerja pada waktu itu?"
Emely tak bisa menyembunyikan nada gemetar dalam suaranya. "Tentu saja saya bisa, Bu. Terima kasih banyak atas kesempatannya, saya tidak akan mengecewakan Ibu.”
Setelah panggilan itu berakhir, Emely terduduk di lantai kontrakan dengan air mata kebahagiaan mengalir deras. Untuk pertama kalinya setelah kehilangan Aji dan dipisahkan dari Carmen, dia merasa langkahnya kembali menemukan arah.
"Carmen. Tunggu Mama ya, Nak," gumam Emely dengan penuh harap.