"Apa yang kamu lakukan sama Aluna?" tanya Leonardi dengan dingin.
Emely yang masih belum sepenuhnya sadar hanya bisa mengerjapkan mata. Namun saat melihat wajah murka Leonardi, membuat Emely seketika merasa gugup.
"Saya ... saya hanya menyusui Aluna. Saya hanya tidak tega ... melihatnya menangis terus karena kehausan," jawab Emely dengan kalimat terputus.
"Kenapa kamu lancang melakukannya?!" bentak Leonardi yang membuat tubuh Emely mengejang ketakutan.
"Saya tidak bermaksud —"
"Sekarang Luna malah rewel dan gejala alerginya muncul!" potong Leonardi cepat, nadanya penuh emosi.
Emely terdiam. Ada rasa bersalah yang besar menguasainya, apalagi setelah mengetahui Aluna malah menjadi sakit setelah disusui olehnya. "Maaf, saya benar-benar tidak bermaksud menyakitinya," ucap Emely lirih.
Leonardi mendekat dan menatap Emely tajam. "Kalau sampai terjadi apa-apa sama Luna, saya tidak akan pernah memaafkanmu, Emely."
Emely menggigit bibirnya menahan isak tangis. "Saya minta maaf, Mas Leo. Sungguh ... saya hanya ingin membantu ...."
Dena yang sejak tadi berdiri di belakang Leonardi ikut menyahut, "Saya sudah melarangnya, Pak, tapi perempuan ini tetap memaksa. Katanya dia juga sedang menyusui anaknya yang berusia satu bulan."
Emely terkesiap saat mendengar ketidakjujuran Dena, dia tidak pernah memaksa untuk menyusui Aluna. Ingin membela diri, tapi Leonardi menatapnya tajam.
"Kamu punya anak?" Pertanyaan itu membuat Emely membeku di tempat.
Bibirnya bergetar sebelum akhirnya menjawab dengan suara hampir tak terdengar, "Punya Mas ... tapi sudah tidak bersama saya."
Leonardi mengernyit, rasa penasarannya seketika muncul. Namun, dia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Dia tidak ingin melibatkan diri lebih lanjut dengan wanita yang telah mencelakakan anaknya.
"Saya minta besok pagi kamu pergi dari sini," ucapnya dingin.
Air mata Emely langsung mengalir. Dia menggenggam ujung selimutnya erat-erat. "Baik, Mas ...," bisiknya pelan.
Tanpa menunggu reaksi Emely lagi, Leonardi berbalik keluar dari kamar, meninggalkan Emely dengan perasaan yang kacau.
Emely menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis terlalu keras. "Aku hanya ingin membantu ...," gumamnya sendiri, suaranya pecah.
Di luar kamar Dena tersenyum puas, lalu cepat-cepat mengikuti Leonardi yang sudah berjalan menuju kamar Aluna.
Sementara itu, Emely terduduk lemas di tepi ranjang. Perlahan-lahan dia merapikan tas kopernya. Entah mau ke mana besok pagi, dia belum tahu. Tapi setidaknya dia bersyukur malam ini masih diberikan tempat untuk berlindung setelah diusir dari kediaman Aji.
Dengan langkah gemetar, Emely menatap langit malam dari jendela. Hatinya semakin berat saat bayangan Carmen kembali hadir di matanya. "Carmen ... Mama rindu kamu, Nak ...."
Tak lama suara langkah kaki cepat terdengar dan sedetik kemudian, pintu kamar terbuka keras. Dena muncul dengan wajah panik.
"Non Luna sesak napas! Dan Pak Leonardi butuh bantuan!"
Emely terpaku. Darahnya serasa membeku. "A-apa?"
"Malah bengong lagi. Kamu bisa nolong atau nggak?!" bentak Dena.
Tanpa pikir panjang, Emely langsung berlari keluar kamar, mengikuti Dena menuju kamar Aluna. Di sana dia melihat Leonardi yang panik sedang menggendong Aluna yang wajahnya mulai pucat kebiruan.
Tanpa izin Emely langsung mendekat dan mengambil bayi itu dari tangan Leonardi. "Biar saya saja yang gendong Aluna!" serunya cepat.
Leonardi refleks melepaskan Aluna ke pelukan Emely. Dengan tangan gemetar tapi terlatih, Emely menepuk-nepuk punggung Aluna dengan pola tertentu, mengatur posisi kepala Aluna sedikit lebih tinggi, sambil perlahan mengusap punggung mungil itu.
"Napasnya tertahan. Mungkin karena lendirnya tertahan di tenggorokan!" Emely berseru.
Melihat Emely yang sigap, Leonardi membeku di tempat, bingung harus berbuat apa. Wajahnya pucat.
Emely terus menepuk lembut punggung Aluna, membisikkan kata-kata lembut di telinga bayi kecil itu. Tak lama kemudian, Aluna mulai batuk kecil dan memuntahkan cairan putih yang kental. Beberapa detik kemudian, Aluna menangis dengan suara keras. Tangisan yang terdengar bagai musik terindah di telinga semua orang di ruangan itu.
Leonardi menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa lega luar biasa. Sedangkan Dena terlihat pucat pasi, tak tahu harus berbuat apa.
Pelan-pelan, Emely menyerahkan kembali Aluna ke Leonardi. "Aluna harus segera dibawa ke dokter sekarang, Mas," ucap Emely dengan sorot mata penuh keseriusan.
"Ayo cepat, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Leonardi dengan nada suara tidak sekeras tadi.
Sambil menggendong Aluna, Leonardi berjalan cepat ke mobil, diikuti Emely dan Dena. Tapi sebelum mereka keluar rumah, Emely berhenti sejenak, menggenggam kalung kecil di lehernya, berbisik, "Tolong jaga aku, Tuhan ... demi putriku Carmen ...."
Perjalanan menuju rumah sakit terasa amat panjang, terutama bagi Emely. Di dalam mobil, suasana terasa mencekam, Leonardi yang mengemudi dengan kecepatan tinggi sesekali melirik ke kursi belakang tempat Emely duduk sambil memangku Aluna.
Aluna masih menangis kecil, sesekali batuk, namun warna pucat di wajahnya perlahan memudar. Emely tak henti-hentinya mengusap punggung bayi itu dengan gerakan lembut, mencoba menenangkan sambil berdoa dalam hati.
Dena yang duduk di sisi Emely hanya diam, wajahnya penuh kegelisahan. Tapi tidak seperti Emely, kepanikan Dena lebih karena takut dirinya disalahkan, bukan karena benar-benar khawatir akan kondisi Aluna.
Setibanya di rumah sakit, Leonardi langsung berlari masuk ke IGD dengan Aluna di pelukannya, diikuti Emely dan Dena. Seorang perawat segera menyambut mereka dan membawa Aluna masuk ke ruang tindakan.
"Dokter akan segera ke sini!" seru salah satu perawat.
Leonardi berdiri terpaku di depan pintu ruang tindakan, wajahnya kusut. Tangannya mengepal kuat, napasnya berat. Emely berdiri tak jauh darinya, ragu apakah dia boleh mendekat atau tidak.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dan menghampiri Leonardi. "Kondisi Aluna sudah stabil. Dia mengalami reaksi alergi akut. Untung saja Bapak cepat membawanya ke sini."
Leonardi langsung mendekat. "Apa putri saya akan baik-baik saja, Dok?"
Dokter itu mengangguk. "Kami akan melakukan observasi selama beberapa jam untuk mengetahui dari mana alergi Aluna berasal. Tapi sejauh ini, tidak ada hal yang membahayakan. Apa Bapak bisa membawa ASI yang Aluna minum hari ini?"
"Saya akan segera membawanya, Dok," ucap Leonardi.
Emely yang sedari tadi menahan diri akhirnya menunduk, matanya berkaca-kaca. Setidaknya, Aluna selamat dan secepatnya dia akan keluar dari rumah Leonardi.
Namun sebelum Emely sempat berkata apa-apa, Leonardi berbalik menatapnya dengan ekspresi rumit.
"Ayo ikut saya pulang, sekarang sudah hampir subuh. Dan kamu harus pergi dari rumah saya saat matahari muncul," ucap Leonardi dengan dingin.
Emely mengusap matanya diam-diam sebelum menjawab lirih, "Baik, Mas."
Sementara dari kejauhan Dena menyeringai puas, setidaknya bukan dia yang disalahkan atas sakitnya Aluna.
Dalam perjalanan pulang, suasana di mobil sangat hening. Tak ada satu kata pun keluar dari mulut Leonardi maupun Emely. Setelah berkendara selama 20 menit, mobil Leonardi akhirnya tiba di rumahnya yang megah. Tanpa berkata-kata, Leonardi langsung turun, membanting pintu mobil dengan kasar.
Begitu masuk rumah, Leonardi berbalik menghadap Emely. "Ambil semua barangmu dan pergi dari sini sekarang."
Emely hanya mengangguk kecil, tanpa berani membalas tatapannya. Dia berjalan pelan menuju kamarnya untuk mengambil kopernya.
5 menit kemudian, Emely berjalan menuju pintu keluar. Tapi sebelum dia sempat menyentuh gagang pintu, suara berat Leonardi menahannya.
"Tunggu."