bc

Di Ranjang Sahabatku

book_age18+
34
IKUTI
1K
BACA
one-night stand
family
HE
kickass heroine
blue collar
drama
sweet
city
office/work place
childhood crush
lies
rejected
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Adrela dan Rezy sudah bersahabat sejak di bangku SMA. Suatu hari, ketika Adrela yang belum pernah pacaran memutuskan mencoba kencan buta, ia meminta Rezy mengajarinya soal hubungan ranjang.

.

Permintaan itu justru mengguncang dunia Rezy. Dengan kondisinya yang ‘sulit bangun’, ia mulai terusik oleh kemungkinan Adrela jatuh cinta pada orang lain.

.

Sementara Adrela belajar membuka hati, Rezy justru takut kehilangan. Apakah Adrela Berhasil melakukan kencan buta tanpa sedikit masalah setelah mendapatkan bantuan dari Rezy?

.

Ataukah hubungan yang mulai intim itu, membuka hati Adrela pada sahabat sendiri?

***

Story by Ig & Tt @penulis_rain

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1
"Lo pernah gak?" tanya Adrela tiba-tiba. Ia menyandarkan siku di meja bar dan menatap Rezy yang duduk di sampingnya. Rezy, sahabatnya sejak SMA. Pria yang sudah menemaninya lebih dari separuh hidupnya. Pria yang selalu muncul setiap kali ia butuh bantuan. "Pernah apa?" tanya Rezy sambil mengangkat gelas birnya. "Se*ks." Bunyi gelas beradu pelan dengan meja. Jemari Rezy langsung mengencang di sekeliling gelas. Rahangnya mengeras. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Adrela yang masih setengah mabuk. "Lo baru aja pulang dari blind date," katanya pelan. "Terus sekarang lo nanya gue soal se*ks?" Adrela tertawa pendek. Terdengar lebih mirip orang yang hampir menangis. "Karena gue capek." Ia menunduk. "Orang-orang ngeliat gue kayak cewek aneh cuma karena umur gue dua puluh delapan tahun dan belum pernah pacaran serius." Rezy tidak menyela. Ia tahu Adrela bukan tipe perempuan yang gampang mengeluh. Kalau sampai bicara begini, berarti ia benar-benar frustrasi. "Tadi pas blind date, cowok itu nanya berapa mantan gue." Adrela memutar gelas di tangannya. "Gue jawab jujur." "Lalu?" "Habis itu dia nanya gue pernah se*ks atau belum." Rahang Rezy langsung mengeras. "Gue bilang belum." Adrela tertawa hambar. "Gue juga bilang gue nggak mau ngelakuin itu sama orang yang baru gue kenal." "Terus dia pergi." Hening. "Gue bahkan belum selesai makan." Adrela menatap cairan bir di dalam gelasnya. "Apa gue aneh ya?" Suaranya jauh lebih kecil sekarang. "Dari dulu gue sibuk kerja. Gue pikir cinta bisa nunggu." Ia mengangkat bahu. "Tapi sekarang semua orang udah punya pasangan. Sementara gue bahkan nggak tahu gimana caranya mulai." Tatapannya beralih pada Rezy. Satu-satunya pria yang cukup ia percaya untuk mendengar semua ini. "Gue nggak ngerti apa-apa." Ia tertawa kecil. "Gue nggak ngerti kapan harus pegangan tangan, kapan harus maju, kapan harus mundur." "Makanya gue nanya lo." Rezy tidak langsung menjawab. Rahangnya sedikit mengeras saat mendengar keputusasaan dalam suara Adrela. Sementara Adrela terus menatapnya, menunggu. Beberapa detik berlalu. "Oh." Adrela mengangguk kecil. "Gak pernah juga ya?" Tok. Gelas bir Rezy menyentuh meja. "Kata siapa?" Adrela mengerjap. "Kata siapa orang harus punya banyak mantan dulu buat ngerti hubungan?" Tatapan Rezy membuatnya terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu terlihat benar-benar terusik. "Lo terlalu sering denger omongan orang lain. Terlalu sibuk mikirin apa yang belum lo punya sampai lupa pakai kepala lo sendiri." Adrela menatapnya beberapa saat. Lalu perlahan duduk lebih tegak. "Tunggu." Mata Adrela membesar. "Berarti lo ngerti?" Rezy mengembuskan napas panjang. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Wajah Adrela langsung berbinar. "Serius?" Ia tertawa tidak percaya. "Anjir." "Harusnya gue nanya dari dulu." Ia berdiri terlalu cepat dan langsung oleng. "Eh—" Sebelum Rezy sempat bereaksi, Adrela sudah memeluknya erat. Rezy membeku. Adrela mundur sedikit, masih memegang lengan pria itu. Mata mereka bertemu. Dan untuk sesaat, Adrela tidak melihat Rezy sebagai sahabat masa kecilnya. Ia melihat seorang pria. Pria yang selalu menjemputnya saat hujan. Pria yang selalu datang ketika ia kesulitan. Pria yang tidak pernah menertawakan ketakutannya. Pria yang selalu membuatnya merasa aman. "Kalau gitu..." Suaranya melemah karena alkohol. "Ajarin gue, plis." Napas hangatnya menyentuh rahang Rezy. "Gue capek ngerasa bodoh terus." Adrela menatapnya beberapa detik. Lalu pandangannya turun. Ke bibir Rezy. Jantungnya mulai berdebar. Jemarinya mencengkeram kerah jaket Rezy. Tubuhnya bergerak maju sedikit. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Hingga jarak mereka nyaris tak ada. Mata Adrela perlahan menutup. Namun tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, kepalanya mendadak terasa berat. Tubuhnya limbung. Dan bukannya mendekat, ia justru jatuh tepat ke bahu Rezy. Beberapa detik kemudian, napasnya berubah teratur. Adrela tertidur. *** Adrela mulai sadar saat angin malam menerpa wajahnya. Pandangannya masih buram. Tangannya melingkar lemah di pinggang seseorang. Suara mesin Vespa tua milik Rezy berdengung pelan di telinganya. "Mau ke mana..." gumamnya. "Pulang," jawab Rezy singkat. "Kita hampir sampai." Tak lama kemudian Vespa berhenti di depan apartemennya. Adrela mencoba turun sendiri. Namun, baru dua langkah, tubuhnya langsung oleng ke samping. "Astaga." Rezy buru-buru menahan bahunya. Beberapa langkah berikutnya tidak jauh lebih baik. Akhirnya ia menghela napas panjang. "Naik." "Hah?" "Gue gendong." Dalam keadaan setengah sadar, Adrela langsung memeluk punggung Rezy dari belakang. Sejak kecil, hanya ada sedikit orang yang bisa ia sentuh tanpa merasa canggung. Dan Rezy selalu menjadi salah satunya. Punggung pria itu terasa hangat saat membawanya memasuki lobi apartemen. Beberapa saat mereka berjalan dalam diam. Lalu suara Adrela terdengar lagi. "Rezy..." "Hm?" "Apa ada yang salah sama gue?" Langkah Rezy melambat sedikit. Adrela tertawa kecil, tapi terdengar menyedihkan. "Dulu gue pikir hidup gue baik-baik aja." Kepalanya bersandar di bahu Rezy. "Gue punya kerjaan. Punya rumah. Punya uang." Suaranya semakin pelan. "Tapi kenapa ya... rasanya gue selalu sendirian?" Rezy tidak menjawab. Ia tahu Adrela tidak benar-benar meminta jawaban. Perempuan itu hanya sedang lelah. "Mereka semua kok gampang banget." "Mereka jatuh cinta." "Mereka nikah." "Mereka punya seseorang." Adrela memejamkan mata. "Sementara gue bahkan nggak tahu gimana caranya mulai suka sama orang." Dadanya terasa sesak. Penolakan malam ini seharusnya tidak penting. Ia bahkan baru mengenal pria itu beberapa jam. Tapi entah kenapa rasanya seperti tamparan. Seolah dunia sedang memberitahunya bahwa ia tidak normal. Bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang rusak. "Gue capek, Zy." Suaranya nyaris berbisik. "Kadang gue mikir... apa gue emang nggak bakal bisa punya hubungan kayak orang lain?" Rezy mengencangkan sedikit pegangan di bawah pahanya. Tindakan kecil yang entah kenapa selalu berhasil membuat Adrela merasa aman. Karena selama hidupnya, saat semua orang datang dan pergi, Rezy selalu ada. Pria itu selalu muncul ketika ia kesulitan. Selalu menjawab teleponnya. Selalu menjemputnya pulang. Dan tidak pernah meminta apa pun sebagai balasan. Mereka akhirnya sampai di depan pintu apartemen. Dengan susah payah Rezy membuka pintu lalu membawa Adrela masuk. Begitu tiba di kamar, ia menjatuhkan tubuh Adrela ke atas ranjang. Adrela memandang langit-langit beberapa saat. Rezy berdiri di sisi ranjang dengan napas terengah, ia menatap sahabatnya yang setengah mabuk. Perlahan ia naik ke atas ranjang, wajahnya memerah seperti orang kepanasan. “Duh… panas,” keluh Rezy sambil menarik kaosnya dan melepaskannya begitu saja. Otot bahunya terlihat jelas, kulit tan-nya ikut memantulkan cahaya lampu kamar. Baru saja ia membaringkan tubuhnya, tatapannya langsung bertemu dengan Adrela yang tiba-tiba membuka mata lebar-lebar. Pandangan itu serius membuat Rezy sedikit ketakutan. Adrela menepuk lengannya pelan dan berbisik, “Lo… serius belum pernah tidur sama cewek?” “Jangan mulai Adrela. Lo tau sendiri punya gue nggak bisa bangun,” balas Rezy. Adrela menarik napas panjang, lalu membalik tubuhnya menghadap langit-langit. “Gue cuma takut kalo gue ngelakuin itu sama cowok random. Setelah itu… apa gue bisa jatuh cinta? Apa gue malah jadi ilfeel sama semuanya? Apa gue bisa tetap percaya sama cowok?” Rezy ikut berbaring di sebelahnya, satu tangan menjadi bantal untuk kepalanya. “Nggak semua hubungan diawali dengan cinta. Kadang ya jalan dulu aja. Nanti juga kebangun sendiri.” “Tapi bukannya cinta itu yang bikin hubungan awet?” gumam Adrela. “Gimana kalo ternyata nggak cocok? Atau… dia kurang bisa bikin gue puas? Kan akhirnya hubungan itu juga bakal hancur.” Rezy bergumam pelan, “Makanya pilih. Lo mau yang mana dulu? Cinta atau se*x? Nggak bisa lo dapet dua-duanya sekaligus.” Adrela terdiam lama. Suaranya kecil waktu ia bicara lagi, “Kalo gue pilih cinta… apa gue bisa nemu pria yang bener-bener tulus?” Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara dengkuran halus. Adrela menoleh cepat, wajahnya langsung kesal melihat Rezy sudah tertidur pulas. “Rezy?!” Ia meraih bantal dan melemparkannya tepat ke wajah Rezy. Rezy bahkan tidak bergerak, ia masih tidur dan mendengkur nyenyak. Adrela memutar bola matanya, mendengus panjang, lalu membalikkan tubuhnya lagi. “Kalau gue coba sama lo ... apa lo mau?” gumamnya sebelum menutup mata. Beberapa saat, dalam setengah sadar, Adrela mengerang kecil. Tubuhnya terasa panas, ia menggeliat, menarik napas pendek. Lalu tanpa sadar tangannya meraih resleting di punggung gaunnya. Dengan gerakan malas dan setengah mabuk, gaun itu melorot begitu saja, jatuh ke pinggir ranjang. Masih mencari kenyamanan, Adrela meraba ke samping, mencari sesuatu untuk dipeluk. Tangannya menemukan tubuh hangat. Ia otomatis menariknya, memeluk erat, wajahnya menempel di d**a tan itu. Rezy yang juga setengah sadar, refleks memeluk balik. Nafasnya tenang, lengannya melingkari pinggang Adrela Namun beberapa detik kemudian mata Adrela terbuka. Mata Rezy juga terbuka. Keduanya langsung membeku. Adrela mendongak perlahan. Rezy menunduk perlahan. Tatapan mereka bertemu dari jarak yang terlalu dekat. Adrela bisa melihat bulu mata Rezy yang biasanya tidak pernah ia perhatikan. Sementara Rezy bisa merasakan napas hangat Adrela mengenai dagunya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
740.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
973.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
355.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook