Chapter 4

1257 Kata
Adrela membuka mata lebar-lebar. Beberapa detik ia hanya menatap Rezy tanpa suara. Otaknya seperti berhenti bekerja. Barusan... Barusan Rezy menciumnya. Rezy. Sahabatnya yang menyebalkan itu. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat. Bibirnya masih terasa hangat. Lalu kesadarannya kembali. Dan bersamaan dengan itu, kemarahannya meledak. Bruk! Kedua telapak tangannya mendorong da*da Rezy hingga pria itu mundur setengah langkah. "Apa lo gila?!" Napas Adrela tersengal. Rezy justru terlihat tenang. "Bukannya lo nanya gimana caranya?" Adrela melongo tidak percaya. "Jadi itu pelajaran pertama, Adrel." "PELAJARAN PALA LO!" Adrela langsung mengusap bibirnya berkali-kali. "Amit-amit ya Tuhan ..." Bahkan setelah itu ia masih menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Rezy mengangkat bahu. "Menurut gue lo terlalu kaku." "Kapan gue minta dicium?!" "Pas mabuk kemarin." "Mabuk?" Adrela menunjuk wajahnya sendiri. "Itu omongan orang mabuk!" "Ya gue kira serius." "Kenapa juga lo ladenin?!" Sudut bibir Rezy terangkat sedikit. "Tenang aja." "Tenang apanya?!" "Itu juga ciuman pertama gue." Adrela langsung membeku. "Hah?" "Iya." Rezy menggaruk tengkuknya. "Jadi jangan ngerasa rugi-rugi amat." Pipi Adrela perlahan memerah. Entah karena marah. Entah karena malu. Atau karena fakta bahwa mereka baru saja saling mencuri ciuman pertama masing-masing. Dan itu justru membuatnya makin kesal. "Gue benci sama lo." Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan taman. "Adrela—" "Gausah ngomong sama gue!" "Idih. Yaudah." Dua langkah. Tiga langkah. Empat langkah. Lalu tiba-tiba Adrela berputar balik. Rezy bahkan tidak sempat bereaksi. Buk! Tendangan mendarat tepat di betisnya. "Aduh!" Rezy langsung meringis sambil mengangkat satu kaki. "Berani lo sentuh gue lagi... gue lempar lo ke lubang buaya." "Lah emang ada buaya di sini?" "GUE CARIIN!" Rezy terdiam. Sementara Adrela berbalik lagi dan berjalan cepat menuju apartemennya tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat melewati trotoar yang masih basah oleh hujan. Setiap beberapa langkah, bayangan wajah Rezy kembali muncul di kepalanya. Sial. Kenapa harus Rezy? Kenapa harus malam ini? Adrela mempercepat langkah seolah bisa meninggalkan pikirannya sendiri. Tak lama kemudian, ia tiba di apartemennya. Pintu apartemen tertutup cukup keras di belakangnya. Brak. Adrela bersandar di sana selama beberapa detik. Dadanya masih naik turun. Entah karena habis berjalan cepat atau karena kejadian di taman tadi. "Gila." Ia menekan kedua telapak tangannya ke wajah. "Rezy bener-bener gila." Tidak ada jawaban selain suara pendingin ruangan yang berdengung pelan. Adrela berjalan masuk ke kamarnya sambil menggerutu sendiri. Tas dilempar ke sofa. Sepatu ditendang sembarangan ke sudut ruangan. Tapi semakin ia berusaha mengalihkan pikirannya, semakin jelas bayangan itu muncul. Wajah Rezy yang tiba-tiba mendekat. Tatapan matanya. Tangannya yang menangkup wajahnya. Dan— "NGGAK!!" Adrela langsung menggeleng keras. "Nggak. Nggak. Nggak!" Ia berjalan cepat menuju kamar mandi. Kalau ada cara menghapus kejadian itu, mungkin dengan membersihkan diri. Adrela berdiri di depan wastafel sambil menggosok gigi seperti orang yang sedang menyikat lantai. Busa pasta gigi memenuhi mulutnya. "Brengsek..." gerutunya. Ia berkumur lalu menatap bayangannya sendiri di cermin. Pipinya masih sedikit merah. Dan sialnya, saat menatap bibirnya sendiri, yang ia ingat justru ciuman itu lagi. "Astaga!" pekiknya meremas rambutnya sendiri. Adrela buru-buru menggosok giginya sekali lagi dengan lebih lama, lebih keras seolah-olah itu bisa menghapus memori. Sepuluh menit kemudian ia selesai. Namun saat menjilat bibirnya tanpa sadar... Ia masih mengingatnya. "Apa sih ini?" Adrela frustrasi. Ia keluar dari kamar mandi dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Langit-langit kamar menyambutnya. Biasanya kalau ada masalah, ia bisa langsung tidur. Tapi malam ini berbeda. Karena setiap kali memejamkan mata, yang muncul bukan wajah Fery. Melainkan Rezy. Padahal seharusnya ia marah. Rezy sudah menghancurkan kencan butanya. Mengacaukan kesempatan yang mungkin bisa jadi hubungan serius. Dan parahnya lagi, mengambil ciuman pertamanya. Harusnya ia kesal. Harusnya ia ingin memukul Rezy sekali lagi. Tapi kenapa jantungnya malah berdebar saat mengingatnya? Adrela membalikkan badan ke kanan. Lalu ke kiri. Lalu kembali terlentang. "Gue benci dia." Kali ini suaranya lebih pelan. Tapi entah kenapa, kalimat itu terdengar tidak meyakinkan bahkan untuk dirinya sendiri. Karena di balik semua kekesalannya, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Saat Rezy menciumnya... Ia tidak merasa takut. *** Esok paginya, Adrela duduk di ruang kerjanya sambil menatap layar komputer kosong. Sudah lima menit. Kursor masih berkedip di tempat yang sama. Ia bahkan tidak ingat email apa yang sedang ingin dibalasnya. Yang ia ingat justru sepasang mata menyebalkan milik Rezy. Dan ciuman itu. “Kenapa sih nggak bisa hilang dari kepala…” gumamnya frustasi. Ia menatap bayangannya sendiri di layar monitor, kantong mata menghitam, wajah kusut, rambut ngembang. “Gara-gara dia, tidur gue nggak nyenyak sama sekali,” desisnya. Tok tok tok. Pintunya diketuk pelan. “Masuk!” Laras masuk sambil membawa map laporan, “Ini laporan yang kamu minta.” Setelah menaruh mapnya di meja, tatapan Laras teralihkan pada wajah Adrela… ia langsung terkejut. “Adrela… lo kenapa? Kok kayak mau mewek?” Adrela langsung menunduk dan mendesah panjang. “Kencan gue… ancur total, Ras. Gue hancurin sendiri.” Laras langsung duduk tanpa diminta. “Hah? Gimana ceritanya? Kok bisa?” "Gara-gara Rezy." Dan selama beberapa menit berikutnya, Laras mendengarkan seluruh cerita dengan mata membulat. Mulai dari kemunculan Rezy di Cafe Bar. Pertengkaran mereka. Sampai bagian yang sengaja tidak diceritakan Adrela. Bagian ciuman. Yang itu ia simpan sendiri. Karena bahkan mengingatnya saja sudah cukup membuat pipinya panas. “Fery pergi gitu aja dan bilang gue pembohong,” tuturnya mengakhiri cerita tragis itu. Laras membelalakkan mata. “Hah?! Tapi… dia cerita ke pacar gue. Katanya Fery suka banget sama lo.” Adrela mengangkat wajahnya cepat. “Serius?!” “Iya! Cuma… dia nggak cerita soal pertemuan kalian gagal,” jawab Laras sambil mengangkat bahu. “Adrela, coba deh lo hubungin dia lagi. Bilang itu cuma salah paham.” Adrela menggigit bibir bawahnya, ragu. “Nggak apa-apa? Gue takut keliatan… desperate.” “Lo mau atau nggak mau? Kalo mau, ya coba dulu,” Laras langsung ambil ponsel, mengetik sesuatu, lalu mengirim nomor ke Adrela. “Tuh nomor Fery.” Adrela menatap nomor itu lama. Lalu perlahan mengambil napas. Mungkin ini kesempatannya. Mungkin semalam memang cuma kesalahpahaman. Mungkin Fery masih bisa diselamatkan. Dan mungkin… Mungkin dengan bertemu Fery lagi, ia akhirnya bisa berhenti memikirkan Rezy. Pikiran itu membuat Adrela langsung menekan tombol panggil. Beberapa menit kemudian, setelah telepon ditutup dan Fery setuju bertemu lagi malam ini, Adrela mengembuskan napas lega. "Akhirnya." Laras tersenyum. "Tuh kan." Namun saat Adrela tersenyum, bayangan seseorang justru muncul lagi di kepalanya. Adrela langsung memukul dahinya sendiri. "Kenapa lagi sih?!" "Lo kenapa?" Laras bingung. "Nggak ada!" Adrela buru-buru berdiri. "Malam ini harus berhasil." "Yakin?" "Yakin." Meski jauh di dalam hatinya... Ia tidak yakin sedang berusaha mendapatkan Fery. Atau sedang berusaha melupakan Rezy. “Eh tapi… lo nggak bakal ketemu dia dengan… tampilan begini, kan?” Adrela berkedip. “Kenapa emang? Gue rapi kok.” Laras menahan tawa. “Adrela… lo kelihatan kayak habis begadang tiga hari. Pertemuan kedua itu penting banget. Lo harus tampil berbeda dari sebelumnya.” Adrela langsung memegang wajahnya panik. “Serius?!” "Serius banget," jawab Laras sambil menunjuk area bawah mata Adrela. "Lihat tuh. Kantong mata lo udah kayak habis nangis semalaman." Adrela langsung meraba bawah matanya. "Ya ampun..." "Nah kan." Laras menyandarkan tubuh ke kursi di depan meja. "Pokoknya malam ini lo harus tampil beda. Jangan datang dengan kemeja kantor dan sanggul berantakan kayak biasanya." "Emang gue seburuk itu?" "Iya." "Laras!" Laras tertawa. Ponsel Adrela yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar. Ia mengernyit lalu mengambil ponselnya. Begitu melihat nama yang muncul di layar, senyumnya langsung menghilang. Rezy. Tapi Adrela enggan mengangkatnya. Ia benar-benar tidak ingin menemui atau bahkan mendengar suara Rezy. Dan tepat saat ia hendak mematikan panggilan itu, panggilan dari Rezy terputus. Namun satu detik kemudian, sebuah pesan masuk. Mata Adrela bergerak membaca layar. Lalu ia membeku. [Kita perlu ngobrol soal semalam.]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN