Mata Ashel berair menatap sosok yang terbaring lemah di hadapannya setelah beberapa jam lamanya ia menunggu operasi Fariz. entah sejak kapan air matanya menganak suangai, bahkan ia tidak sadar saat tetes-tetesan air matanya mengenai pipi Fariz yang tak sadarkan diri dengan hampir sekujur tubuh dibalut perban, serta alat bantu nafas yang terpasang menutupi sebagian wajah tampan itu. “Kenapa bisa sampai begini, Mas?” lirih Ashel seperti sedang berbicara dengan Fariz. kondisi Fariz yang parah membuat Ashel pesimis, akankah Fariz masih mampu bertahan hidup? Ya Tuhan, kenapa ketakutan Ashel membawa kepada pemikiran yang begitu buruk? “Ya Allah, jangan ambil dia dariku.” Ashel sesenggukan. Jarinya meraih jemari Fariz dan meremasnya. Ashel merasa bersalah, sehari sebelum kecelakaan te

