Pagi itu, hari ketiga Fariz dirawat di ruang rawat. Ashel mulai merasa janggal dengan sikap Fariz yang dingin terhadapnya. Fariz tidak banyak bicara. Ia cenderung diam dan bahkan lebih sering memejamkan mata, meski Ashel tahu Fariz tidak sedang tidur. Fariz hanya sedang menghindari kontak mata dengannya. Setelah sadar dari tidur lumayan panjang, kenapa Fariz jadi aneh? Apa dia mimpi kepentok ular naga saat tidur panjang sampai jadi lupa sifat aslinya yang suka ngatur-ngatur itu? “Apa kamu bertemu Reihan?” Ashel membelalak mendengar pertanyaan itu. “Reihan? Kenapa Mas menanyakan dia? dia tetangga kita dan tentunya aku sering melihatnya.” “Dan kamu sering minta bantuannya supaya sering datang ke rumah?” Ashel tertegun dan terdiam. Kata-kata Fariz jelas mengandung unsur kemaraha

