“Aku memang jahat, Shel. Aku kesulitan melepas masa laluku. Seharusnya akal yang menggerakkan otakku. Aku diperbudak oleh perasaan yang sulit dikendalikan. Tapi aku tahu, kamu pasti kuat dan sabar menghadapi suami nyebelin kayak aku.” Fariz menatap mata Ashel lekat-lekat. “Kamu boleh pinjam dadaku untuk menyandarkan kepala saat sedang menangis. Tuhan menciptakan organ tubuhku untuk menjagamu. Plis jangan nangis lagi. Kemarilah!” Fariz merentangkan tangan. Melihat kedua tangan yang merentang, serta d**a bidang yang nganggur, Ashel menjatuhkan kepalanya di d**a bidang itu, membiarkan tangan kokoh Fariz melingkar di punggungnya. “Jangan nangis! Aku ikutan galau ini, jadi pengen ikutan nangis. Entar kamu ilfil lagi kalau ngeliat aku nangis, soalnya mulutku kalau mewek jelek bange

