Sambil terus menghapus air mata yang meleleh di pipi, Ashel menggoncang-goncang knop pintu, sia-sia usahanya, hanya menghasilkan keringat. Pintu dikunci dari luar. “Tolong!” pekiknya dengan suara bergetar. Pita suaranya seakan habis tertelan tangisan. Hening. Tidak ada jawaban. Ashel menggedor pintu kuat-kuat. “Siapa di luar?” teriak Ashel lagi. Sunyi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Sebenarnya dimana sekarang dia berada? Ashel bahkan tidak tahu dia sekarang sedang berada dimana. “Ayah, Ibu, anakmu hancur sekarang!” Ashel terduduk lemas di balik pintu dengan tangan memeluk kedua lutut yang terlipat. Pandangan Ashel kembali ke beberapa bungkus roti, kentaki dan dua botol minuman yang bertengger di meja. Penampakan yang menggiurkan disaat kondisi perut sedang ke

