Fariz sudah rapi mengenakan tuxedo hitam dipadu kemeja merah di dalamnya, serta dasi dengan warna senada tuxedo. Ia berdiri di depan cermin, matanya tidak sedang menatap wajah tampan yang terpantul di cermin, melainkan wajah sosok wanita yang ada di belakangnya. Tak lain Ashel yang sedang sibuk merapikan sprei. “Shel!” panggil Fariz setelah beberap menit ia memperhatikan istrinya lewat cermin. “Hm.” Ashel menyusun bantal. “Kemari!” “Ngapain? Masangin dasi?” Ashel melirik sekilas. “Tapi dasinya udah rapi.” “Kemari kubilang!” Ashel meninggalkan pekerjaannya dan mendekati Fariz. Fariz memutar badan hingga menghadap Ashel. Tanpa aba-aba, ia memeluk Ashel dan menciumi rambut istrinya sementara kedua telapak tangannya mengelus-elus punggung Ashel. “Mas, apaan, sih?” tanya Ashel tan

