“Aku cuma bercanda, Mas.” Satu kalimat pendek yang berhasil membuat Mas Gala marah dan mendiamkanku. Sudah dua hari ini, sikapnya agak dingin. Sebenarnya tidak benar-benar diam dan menghindar. Hanya saja, aku sadar betul kalau dia kecewa karenaku malam itu. Ya, harus kuakui kalau diriku memang salah. Salah besar, malah. Aku sudah mempermainkan hasrat suamiku sendiri. Harusnya aku tidak bercanda untuk bagian itu. Memang tidak lucu sama sekali. Sekarang aku jadi bingung harus bagaimana meminta maaf dengan sungguh-sungguh agar dimaafkan. Sebenarnya, aku sudah mencoba minta maaf dan Mas Gala pun menjawab ‘iya’. Namun, kata ‘iya’ saja tidak cukup. Itu terdengar sangat memaksa. Paling dia jawab begitu agar aku diam dan tak mencecarnya lagi dengan permintaan maaf— yang kemungkinan besar terd

