77. Telepon Tengah Malam

1805 Kata

“Jadi? Kapan kita bisa saling ‘memiliki’ satu sama lain?” Pertanyaan itu membuatku segera menurunkan kedua tangan Mas Gala dan memeganginya erat agar tetap di tempat. Mas Gala tidak melawan. Yang ada, dia seperti sedang menungguku menjawab kalimatnya. Aku tidak bodoh, jadi aku sangat paham apa arti saling memiliki yang dia tanyakan. Hanya saja, aku ingin membahas bagian ini pelan-pelan. “Ma?” “Aku udah dewasa, jadi aku paham betul apa maksud pertanyaan Mas Gala.” “Memang seharusnya begitu. Karena pertanyaanku cukup terus terang.” “Dan Mas yakin nanya itu?” “Kenapa enggak yakin? Di sini justru kamu, kan, yang belum yakin?” Aku menghela napas panjang, lalu menatap depan. Tangan Mas Gala kini sudah tak lagi kugenggam. Kami pun sudah tak lagi berhadapan. “Maaf, Ma, kalau kalimatku bik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN