Seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah menyiapkan bekal untuk Mas Gala. Sejak dia mulai aktif praktek, bisa dihitung hari aku libur membuat bekal. Selebihanya, aku hampir tidak pernah absen. Lebih mudah bagiku membuatkan bekal daripada membuat makan malam. Justru kalau makan malam lebih sering beli di luar atau mengandalkan jasa pesan antar. Mas Gala tidak tega kalau aku masih harus masak setelah lelah seharian internship dan melewati jalan yang jauh pula. Mas Gala pernah bilang, soal makan itu hal sepele. Sepele dalam arti, solusinya ada banyak. Jangan sampai hanya karena perkara makan malah menimbulkan masalah baru. “Masak apa hari ini, Ma?” tanya Mas Gala yang datang dari arah kamar. Dia tampak sudah mandi, tetapi belum ganti pakaian rapi. “Coba tebak!” “Sejak mau mandi, udah wangi

