Hanya jeda dua hari sejak insiden dengan Mas Rendra, Mas Gala langsung mengajakku bertemu. Dia minta bertemu di café dekat rumahku saja— bukan Pawon Kinanthi. Aku langsung mengiyakan. Aku tahu apa tujuan Mas Gala mengajakku bertemu kali ini. Aku yakin, dia akan membahas lebih lanjut mengenai masalahku dan Mas Rendra kemarin. “Kamu pasti paham kenapa hari ini aku ngajak kamu ketemu, Ma,” ujar Mas Gala setelah pesanan kami diantar. Aku mengangguk. “Iya, paham. Tentang Mas Rendra, kan?” “Iya. Aku enggak akan maksa kamu buat cerita keseluruhan kalau memang enggak berkenan. Tapi kalau kamu percaya sama aku, coba kamu cerita. Kemarin aku enggak berani tanya banyak-banyak karena kamu masih syok. Kali ini, kalau kamu berkenan, aku ingin tahu yang lebih mendetail.” “Mendetail ini gimana, Mas?

