Hari pertama internship di rumah sakit sudah sangat seru. Kasus yang kutangani langsung kompleks, tetapi masih tahap wajar. Supervisor-nya juga ramah. Orangnya sangat edukatif dan tidak sombong. Aku dan Aric semakin kompak saja. Sekalipun kami beda DPI, tetapi kami masih bisa sering bersama. Karena pada dasarnya, DPI hanya untuk administratif dan penilaian akhir. Soal supervisor harian, kami masih mungkin dapat orang yang sama. “Sekarang aku ngerti kenapa kamu juara dua nasional,” ujarku saat aku dan Aric jalan beriringan menuju ruangan kami. Daripada dengan Satria dan Bagus, tentu jalan dengan Aric jauh lebih aman. Tadi Nanad sedang dipanggil Dokter Utomo, sedangkan Nafis dan Susi masih mengurus pasien di bangsal. “Kenapa, emang?” “Keren!” aku mengacungkan kedua jempolku. “Pujian dar

