Malam ini Mas Gala memaksaku untuk tidur di kamarnya. Aku mengiyakan tanpa banyak tapi. Bahkan andai dia tidak memaksa pun, aku memang akan minta dengan sendirinya. Aku terlalu takut untuk tidur sendiri malam ini. Sejak paket mengerikan tadi, aku tidak bisa berpikir jernih. Otakku ke mana-mana, memikirkan kemungkinan siapa si pengirim. Kalau tanya nama yang pertama kali muncul, tentu jawabannya adalah Mas Rendra atau keluarganya. Pasalnya, aku merasa merekalah satu-satunya ‘musuh’ yang kumiliki. Karena aku warga baru di Jogja, aku tak merasa punya masalah dengan siapa pun selain mereka. Namun, ini juga belum jaminan. Masih ada kemungkinan orang lain sekalipun aku tidak bisa menebak sedikit pun. Terkadang, yang begini malah bisa plot twist— yakni pelaku adalah orang yang belum terpikirka

