Akhirnya, tiba juga acara lamaran antara aku dan Mas Gala. Karena baru lamaran, acara tidak diselenggarakan besar-besaran. Benar-benar hanya keluarga inti dan kerabat dekat saja. Kerabat dari Ibu, ada kakak beliau yang sering kusebut Pakde Yan— namanya Hardian. Beliau tinggal di Solo sejak Yangkung dan Yangti belum meninggal. Ibu memang hanya dua bersaudara saja. Dan anak Pakde Yan inilah yang waktu itu khitan sampai Ayah dan Ibu menginap dua hari. Pakde Yan sudah sukses di kotanya. Beliau punya banyak peternakan— baik itu Ayam, Kambing, sampai Sapi. Jadi, beliau tidak pernah mengusik soal harta warisan. Malah beliau sering menawarkan bantuan pada Ibu, hanya saja Ibu yang segan. Sekalipun kakak sendiri dan kandung pula, tetapi mereka sudah lama hidup masing-masing. Kerabat dari Ayah, ad

