“Vira memang cantik, tapi kamu jauh lebih cantik. Kedepannya, jangan pernah membandingkan dirimu dengannya. Kamu jauh lebih baik darinya. Paham?” Aku tidak menjawab, tetapi aku langsung mengangguk. Mas Gala tersenyum, lalu sentilan pelan mendarat di hidungku. “Ayo, lanjut jalan lagi.” Mas Gala meraih tanganku dan kembali menggandeng seperti tadi. Kini, aku hanya terus diam, tetapi senyumku terus mengembang. Aku lebih cantik? Aku lebih baik? Apa benar begitu? Apa pun tujuannya, yang jelas, Mas Gala mencoba menenangkanku. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup. “Kok jadi diem aja, Ma?” “Ha?” aku menoleh dan mendongak. “E-enggak papa. Seneng aja, soalnya dipuji calon suami.” Mas Gala tertawa. “Aku enggak ingin punya istri yang mudah minder. Aku ingin punya istri yang selalu percay

