“Ayah sama Ibu maunya kita nikahan pakai acara adat, Ma. Yang modern saat resepsi aja.” Ucapan Mas Gala membuat kunyahanku seketika berhenti. Aku yang tadinya sedang menunduk makan sup, kini langsung meluruskan pandangan dan menatap Mas Gala. “Wajib banget, ini?” “Kayaknya, iya.” Aku terdiam sesaat, tiba-tiba merenung. Harusnya aku tidak kaget. Keluarga Mas Gala ada darah keraton. Jadi, sudah seyogyanya menikah dengan cara adat. Pasti bagian ini masih kental sekali. Aku juga tidak berani membantah. “Tapi enggak terlalu lengkap enggak papa, kok,” lanjut Mas Gala. “Kata Ibu, nanti pilih yang inti-inti aja. Yang opsional enggak usah, enggak papa.” Aku langsung mengangguk. “Aku ikut aja, deh, Mas. Toh tinggal jalanin.” “Yakin?” “Yakinlah. Aku menghargai keinginan orang tua. Orang tuaku

