Terdengar deru langkah kaki yang tegas dan cepat, diiringi suara ayunan cambuk kecil yang mengenai lantai. Semakin lama semakin keras. Menandakan si pemilik langkah sudah semakin dekat. Suara petir di luar rumah menyambar-nyambar. Terdengar menggelegar, bersahutan dengan suara derasnya hujan. “Salma! Buka pintunya! Kamu di dalam, kan?” Badanku masih sakit, tetapi aku tidak punya pilihan lain selain segera berlari menuju pintu kamar dan buru-buru membukanya. “Kenapa, Mas— aaaak!” Aku limbung karena satu cambukan mengenai pundak dan lenganku. Luka di badan bertambah, tetapi aku tidak berani protes. Karena kalau protes, luka yang kudapat akan semakin menjadi. Luka kemarin saja belum sembuh. Jangankan sembuh, membaik saja belum. “K-kenapa, Mas?” “Makan malamku mana, hah? Kenapa meja koso

