SEMBUNYI

2103 Kata

“Kamu lapar?” tanya Bintang. Langkahnya seirama dengan Helia, yang berjalan sambil memeluk map berisi sebagian besar jejak hidupnya—operasi, terapi, dan semua hal yang berusaha ia lupakan. Mereka berhenti di depan lift. Saat Bintang menekan tombol turun, Helia menoleh sekilas pada plakat kecil yang menempel di dinding: Poli Bedah. Ia menghela napas panjang. Rasanya seperti melepas beban yang sudah terlalu lama menggantung. Setidaknya, ucapan Irgi tadi—bahwa progres pemulihannya berjalan baik—memberikan ruang lega di dadanya. “Izora?” Bintang memanggil lagi. Helia terkekeh, tersadar dari lamunannya. Bintang menahan pintu lift yang terbuka, melirik ke dalam. “Ayo.” “Maaf, aku malah bengong.” “It’s okay,” jawabnya lembut. “Untung cuma kita yang nunggu lift.” Beberapa menit kemudian, me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN