“Permisi....” Helia yang belum sepenuhnya pulih dari sensasi aneh yang ditimbulkan wangi di udara sontak mengangkat wajahnya. Dua orang staf mendekat ke meja mereka—setidaknya, itu kesan awalnya—mengenakan apron pinggang salur sage dengan bordir dedaunan, headband senada, dan langkah profesional. Harusnya bukan hal aneh. Namun ekspresi Bintang yang tiba-tiba seperti salah tingkah justru membuat Helia mengernyit. Pemuda yang lebih tinggi—meletakkan dua gelas honey lemon warm brew dan dua piring kecil berisi potongan buah segar serta rebusan edamame hangat di meja. Pemuda satunya—yang ber-piercing— menyodorkan dua buku menu sambil tersenyum ramah. “Welcome drink dari The Hiding Place,” ujar si tinggi. “Silakan dinikmati.” Helia tersenyum sopan. “Terima kasih.” “Semoga berkenan, Teh.”

