“Ngga ngeteh dulu?” tanya Helia begitu turun dari scooter Bintang. “Kan belum buka. Nanti saya keenakan dikasih teh gratis mulu,” tolak Bintang lembut. “Jangan lupa, kalau senggang, cobain makan di sini.” “Oke, Kak.” “Memangnya, umur kamu berapa, Bintang?” “Saya?” Helia mengangguk. “28,” tanggap Bintang. “Aku 25. Kayaknya ngga pantes jadi kakak kamu.” Bintang tergelak. ‘Jadi kesayangan urang sih pantesnya.’ “Tapi kalau nyamannya kamu—“ “Deal. Nanti saya jemput, ya Izora?” Helia tersenyum menanggapi orang pertama yang memanggilnya Izora itu. “Oke. Tunggu kabar aku aja, biar kamu ngga nunggu lama.” “Beres!” Bintang pamit, mengucap salam, lalu kembali melajukan motornya. Tepat saat akan membuka pintu kafe, Dinu menepuk bahu Helia. “Kak?” “Eh, tumben agak cepat datang, Din?” ba

