Senja selalu punya cara sendiri menelan batas antara sibuk dan sepi. Di kawasan SCBD, lampu-lampu mulai menyala, satu per satu, bersinar di dinding kaca gedung tinggi seperti gugusan bintang yang dipaksa tinggal terlalu dekat dengan aspal. Scooter hitam itu melaju pelan di antara deretan mobil yang mengular. Bintang melirik jam di panel ponselnya yang terpasang di dashboard. 18:30 ‘Kepagian,’ batinnya. ‘Tapi ya… biarin.’ Ia tak langsung memarkir motornya di depan Théologie. Sebaliknya, ia memutar sedikit, lalu berhenti di sisi bangunan lain—sebuah kafe kecil yang menempel ke gedung perkantoran. Dari sana, ia bisa melihat fasad tea house Helia dengan cukup jelas. Pintu kaca, canopy putih, dan siluet seseorang yang mondar-mandir di balik bar. Izora. Kesayangannya. *** “Mix berries j

