KESEMPATAN

1786 Kata

Bintang menunggu Daim memberikan barang Helia yang tertinggal. Hujan berhenti, namun aroma aspal basah masih menempel di udara. Lampu-lampu gedung SCBD memantul di genangan air, menciptakan ilusi bintang di bumi. Saat Daim keluar lagi dari pintu kaca tea house itu, ia membawa dua paper cup, disegel. “Nih, A. Dapat teh hangat. Wangi banget pas tadi dibikin.” Ia menyerahkan salah satunya untuk Bintang. “Dapat atau beli?” balas Bintang. “Dikasih.” Bintang mendengus. “Gimana sih maneh? Orang jualan lho itu. Kok pasrah aja dikasih gratisan?” Daim mengerjap. Agak bingung kenapa Bintang malah terlihat kesal. “Rezeki, A. Masa Teh Ia udah capek-capek bikinin malah abdi tolak?” “Siapa namanya?” tanya Bintang. Daim menyeringai usil. “Eleuh, langsung nanya nama. Jangan-jangan besok ngirim parc

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN