Bumi berlari kembali ke minimarket dengan tangan menggenggam kantong plastik. Hujan membasahi sebagian jaket kulitnya, sementara payung dan boots-nya meneteskan bulir air ke teras toko. “Masih aman kayaknya,” ujar Bumi, mengangkat bungkusan martabak dan sate. “Sok, cek dulu.” Bintang terkekeh, lalu menghela napas pelan. “Nuhun, A. Bentar.” Ia memeriksa kondisi makanan-makanan itu sejenak. “Alhamdulillah aman. Kardusnya mleyot karena panas-panas ditutup, bukan karena kehujanan.” “Tah, yuk masuk,” ujar Bumi lalu beranjak lebih dulu. Ia membuka pintu pengemudi, meminta istrinya bergeser agar bertukar posisi. Sementara Bintang dan Helia melangkah ke pintu tengah. “Helia kan? Aku Yuna,” sapa istri Bumi. Ia menoleh ke belakang sambil tersenyum lembut. “Ayo masuk, ngga apa-apa kok, A Bumi ng

