Pagi menjelang. Helia terbangun saat celotehan Eira yang mengajak sang ibu mencari kue pancong menyusup ke pendengarannya. Ia ikut bersiap, merasa perlu menghirup udara segar sekaligus tak enak hati jika justru menghabiskan pagi di rumah orang lain dengan merapatkan selimut. Sepulang jalan pagi, mereka disambut Bintang yang duduk di kursi makan dengan wajah mengantuk dan rambut acak-acakan. “Bisa gerak maneh?” ledek Bumi. Bintang hanya terkekeh. “Kenapa?” tanya Helia. “Si Aa shalat subuhnya duduk, Teh,” timpal Sam. “Hah? Sakit banget kakinya ya? Gara-gara semalam kan pasti?” cecar Helia, panik. “Ngga apa-apa, Helia. Serius deh. Nanti kalau sudah dibawa jalan juga ototnya lemas lagi.” “Ya ampun Bintang ma—“ “Tuh kan. Sudah dibilang, jangan minta maaf terus.” “Tapi kamu....” “Aku

