Zaya baru saja masuk ke rumahnya, Aland sudah menghujam banyak pertanyaan. "Darimana saja kamu? Pergi dengan siapa? Kau mendapatkan izin dari mana untuk pergi? Kenapa tidak memberitahuku?" Zaya yang lelah menjadi semakin lelah menghadapi pertanyaan Aland yang bertubi-tubi. Tapi tunggu, ada yang aneh. Kali ini Aland tidak bertanya dengan suara yang keras atau pun berteriak seperti yang sudah-sudah. Melainkan ia duduk dengan tenang, menatap Zaya dengan tatapan yang biasa saja. "Ada apa sama, Aland?" gumam Zaya yang sedikit curiga dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba berubah. "Kenapa kau hanya diam, Zaya?" tanya Aland kemudian. "Apa aku tidak punya hak untuk pergi? Aku juga punya kaki, aku bukanlah tawanan penjara!" Zaya menjawab dengan suara yang keras. Aland membuang muka denga

