Bukan Manusia

1101 Kata

Tiba di mobil, Zaya tercengang. Aland membukakan pintu untuknya. "Ada apa dengan, Aland?" Masih menjadi pertanyaan terbesar dalam hatinya, apakah ini nyata, atau hanya sekedar ilusi semata. Tetapi rasanya hal itu semakin nyata ketika Aland mulai tersenyum dan bersuara. "Masuklah, atau kita akan terlambat." Zaya yang masih memikirkan banyak hal, pun tidak bertanya mengapa. Dia patuh mengikuti arah permintaan Aland. Setelah mereka berdua masuk, Herry mulai mengemudi. Melihat bahwa kini keduanya akrab, ada rasa senang yang mendalam. "Andai saja Nyonya ada di sini, pasti akan ikut merasa senang," ujar Herry dalam hati. Tidak sabar rasanya untuk segera berbagi kabar gembira dengan orang tua Aland. Meski dalam perjalan mereka tidak saling bicara, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk dik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN