Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca, memantulkan warna keemasan yang bergerak pelan mengikuti laju kendaraan. Biasanya Aluna akan memutar musik atau sekadar mengomentari kemacetan yang baru saja mereka lewati. Malam itu tidak. Keheningan memenuhi kabin. Kaiden menggenggam kemudi sedikit lebih erat. Sejak meninggalkan restoran, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Berkali-kali ia melirik gadis yang duduk di kursi penumpang, namun Aluna hanya menatap keluar jendela, seolah lampu-lampu kota jauh lebih menarik daripada dirinya. Dadanya terasa sesak. Sudah terlalu lama ia berusaha menekan perasaannya sendiri. Ia menjaga jarak, bersikap dingin, berharap semua itu cukup untuk membuat perasaan yang salah waktu itu menghilan

