Pagi itu Aluna meninggalkan kantor lebih cepat dari biasanya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, langkahnya terasa ringan ketika keluar dari lift dan berjalan menuju area parkir. Tidak ada rasa kesal karena melihat Nada muncul di lobi. Tidak ada perasaan jengkel karena harus menghindari Kaiden. Tidak ada keinginan untuk memeriksa apakah pria itu sedang berada di ruangannya atau tidak. Hari itu ia benar-benar memiliki alasan lain untuk dipikirkan. Tesis. Sesuatu yang selama beberapa bulan terakhir sempat tenggelam di tengah kekacauan hidupnya. Mobil kuning lemonnya meluncur membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Di kursi sebelah, Deasy sibuk membuka tablet sambil mengomel soal revisi dosen yang menurutnya semakin lama semakin tidak masuk akal. "Aku yakin dosen p

