Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Aluna lebih banyak diam. Mobil kuning lemonnya melaju perlahan di tengah kemacetan Jakarta siang hari, sementara jemarinya sesekali mengetuk setir tanpa irama yang jelas. Musik yang biasanya ia putar sebagai teman perjalanan hanya terdengar samar di latar belakang karena pikirannya sedang sibuk ke tempat lain. Ke ayahnya. Ke ibunya. Ke masa lalu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pahami. Sejak kecil, Aluna hidup di antara dua dunia yang berbeda. Robert selalu hadir dengan caranya sendiri. Hangat. Sabar. Nyaris tidak pernah marah. Bahkan ketika hidup memberinya alasan untuk membenci seseorang, pria itu tetap memilih diam. Sementara ibunya adalah kebalikannya. Tegas. Mandiri. Sulit ditebak. Wanita yang mengajarinya bagaimana berdiri

