Bab 4

1371 Kata
Di rumah dinas gubernur, suasana jauh lebih sibuk dari biasanya. Suara sepatu staf beradu dengan lantai marmer, telepon berdering dari setiap sudut, dan aroma kopi bercampur parfum politik yang tak pernah benar-benar hilang dari gedung pemerintahan itu. Hari itu adalah hari penting. Hari di mana Felisha Jamil — perempuan yang seminggu lalu menjadi berita nasional — akan tampil untuk pertama kalinya di depan publik bersama Grari Sukma Halan, gubernur yang kini menjadi calon kuat untuk masa jabatan kedua. *** Felisha duduk di kursi rias yang dikelilingi lampu bulat putih. Rias wajahnya sudah setengah selesai. Make-up artist memoles highlighter lembut di tulang pipinya, sementara hairstylist merapikan rambut hitamnya ke arah belakang, digelung rendah dan dibingkai dengan poni tipis yang jatuh manis di sisi wajah. Ia mengenakan gaun selutut warna biru tua satin lembut dengan potongan A-line sederhana. Di bahunya terletak blazer krem tipis, menambah kesan formal tapi feminin. Kalung mutiara kecil melingkar di lehernya, dan sepatu hak medium warna nude menambah tinggi tubuhnya beberapa sentimeter. Di meja rias, selembar kertas berisi daftar pertanyaan wartawan menunggu. Ia membaca sekilas, tapi pikirannya tidak benar-benar di sana. Yang berputar hanyalah satu hal: wajah Grari. Sudah seminggu ia tidak bertemu sejak pertemuan di restoran tertutup. Dan entah kenapa, detik-detik menjelang pertemuan ini membuatnya gugup — bukan karena kamera, tapi karena seseorang yang harus ia tatap sambil berpura-pura saling mencintai. “Bu Felisha,” suara lembut terdengar dari pintu. Ratih, ajudannya, muncul sambil membawa sebuah kotak beludru hitam. “Ini dari Pak Grari. Beliau titip sebelum acara dimulai.” Felisha menatap kotak itu curiga. “Apa ini?” Ratih tersenyum. “Saya tidak tahu pasti, tapi beliau bilang Ibu perlu memakainya sebelum naik ke podium.” Felisha membuka kotak itu pelan. Di dalamnya, berbaring sebuah cincin berlian bermata satu, sederhana tapi menawan. Batu kecil itu memantulkan cahaya putih bersih, berkilau tanpa berlebihan. Ia menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Terlalu indah untuk pura-pura.” Ratih hanya tersenyum lembut. “Mungkin justru karena itu, Bu.” Felisha menarik napas panjang, menyelipkan cincin itu ke jari manis tangan kanannya. Rasanya dingin. Namun anehnya, dingin itu justru membuat dadanya terasa hangat. *** Di sisi lain gedung, Grari berdiri di depan cermin besar di ruang kerjanya. Ia mengenakan setelan jas abu tua yang pas di bahu, kemeja putih bersih, dan dasi biru navy dengan pin kecil berbentuk lambang provinsi di tengahnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, meninggalkan satu helai yang jatuh alami di dahi. Ia memeriksa dirinya sekilas, lalu memejamkan mata beberapa detik. “Pak,” suara Radit memecah keheningan. “Wartawan sudah siap. Sekitar lima puluh media. Live di enam stasiun televisi nasional.” “Baik,” jawabnya pendek. “Dan Bu Felisha sudah tiba.” Grari membuka mata. Ada sesuatu di dadanya — bukan ketakutan, bukan kebanggaan, tapi semacam kesadaran. Bahwa apa pun yang akan terjadi setelah ini, hidupnya tidak akan lagi sama. Mereka bertemu di koridor menuju ruang konferensi. Felisha berjalan dari arah berlawanan, diapit dua staf protokol. Langkahnya anggun tapi hati-hati, seolah setiap langkah bisa menimbulkan gempa di media sosial. Begitu Grari melihatnya, waktu terasa menahan napas. Ia tidak tahu harus menatap ke mana lebih dulu — ke matanya yang tenang, atau ke gaun biru yang membingkai tubuhnya dengan elegan. Felisha tampak… luar biasa. Tidak mewah, tidak berlebihan, tapi pantas. Seperti seseorang yang sudah lama seharusnya ada di sisinya. “Selamat pagi, Pak Gubernur,” sapanya lembut. Grari hampir lupa menjawab. “Selamat pagi, Putri Haris Jamil.” Suaranya terdengar serak, tapi hangat. Mereka berdiri cukup dekat. Udara di antara mereka terasa padat, seolah seluruh ruang tahu ada sesuatu yang tak diucapkan. Felisha menatap cincin di tangannya, lalu mengangkatnya sedikit. “Terima kasih. Cantik sekali.” Grari menatap cincin itu, lalu ke matanya. “Bukan apa-apa aku meminta ajudanku membelinya di mall semalam.” Felisha tersenyum samar. “Ha aku tahu kamu tidak akan se effort itu.” “Ya aku cukup sibuk.” jawabnya pelan. “Untuk 50 juta penduduk.” Kalimat itu menggantung lama sebelum protokol datang memanggil. “Pak, Bu, waktunya masuk. Lima menit lagi.” *** Ruang konferensi utama penuh sesak. Kamera berderet seperti senjata, mikrofon menumpuk di atas meja podium. Di depan backdrop biru bertuliskan “Konferensi Pers Pemerintah Provinsi Jawa Barat”, dua kursi sudah disiapkan. Dan ketika pintu terbuka, semua kepala menoleh bersamaan. Felisha masuk lebih dulu, diikuti Grari. Kilatan lampu kamera langsung menyambut, suara wartawan saling bertumpuk, mikrofon diarahkan, nama mereka dipanggil dari segala arah. “Pak Grari, benar ini calon istri Bapak?” “Bu Felisha, bagaimana hubungan kalian dimulai?” “Apakah ini pernikahan politik?” Felisha nyaris kehilangan pijakan. Tapi sebelum ia sempat mundur, tangan Grari terulur — spontan, mantap, hangat. Ia menggenggam tangan Felisha di depan puluhan kamera. Genggaman itu kuat, namun lembut. Waktu seolah berhenti sejenak. Tatapan kamera memantulkan dua siluet yang tiba-tiba terlihat serasi. Grari tersenyum tenang ke arah wartawan, lalu berbicara dengan suara mantap: “Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media. Saya tahu ada banyak spekulasi beredar sejak beberapa hari lalu. Dan hari ini, kami ingin mengakhiri semua itu dengan satu penjelasan.” Ia menoleh sekilas ke arah Felisha, lalu kembali ke mikrofon. “Felisha dan saya telah saling mengenal cukup lama. Kami memilih untuk menjaga hubungan ini secara pribadi selama setahun terakhir, dan kini… kami siap melangkah ke jenjang yang lebih serius.” Kilatan kamera kembali menyambar. Felisha tersenyum lembut, sedikit gugup, tapi berhasil terlihat natural. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat tangan kanannya — menunjukkan cincin berlian di jari manis. “Cincin ini,” katanya pelan, “bukan sekadar simbol. Tapi pengingat bahwa kepercayaan kadang bisa lahir dari tempat yang paling tidak terduga.” Kata-katanya sederhana, tapi ruangan mendadak sunyi. Beberapa wartawan menatap satu sama lain, terpaku oleh nada suaranya yang jujur. Itu bukan pernyataan politik. Itu terdengar… nyata. *** Sesi tanya jawab berjalan lancar. Beberapa wartawan tersenyum, sebagian besar menulis cepat di laptop mereka. Narasi mulai terbentuk — “Cinta lama yang akhirnya terungkap.” Dan di tengah kebisingan itu, Felisha merasa seperti sedang menonton film dirinya sendiri. Grari masih menggenggam tangannya di bawah meja. Tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah. Tapi cukup untuk membuatnya tahu — ia tidak sendirian. Sesekali, ia menoleh ke arah pria itu. Dan setiap kali, pandangan mereka bertemu, hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat napasnya berhenti. Felisha tidak tahu kapan tepatnya rasa kagum itu mulai muncul. Mungkin saat ia melihat bagaimana Grari menatap publik tanpa kehilangan kendali. Atau mungkin saat ia sadar, di balik semua keheningan dan rencana politik, ada ketulusan kecil yang menyelinap di antara mereka. Begitu acara selesai, tim humas segera menutup sesi. Para wartawan bubar perlahan, meninggalkan ruangan dengan wajah puas. Radit dan beberapa staf mengawal mereka ke belakang panggung. Di sana, suasana jauh lebih tenang. Felisha melepaskan napas panjang. “Aku gak tahu gimana caranya kamu bisa ngomong setenang itu.” Grari tersenyum tipis. “Kalau masuk ke dunia politik, kamu belajar bicara seperti sedang menenangkan badai.” “Dan kalau kamu salah ngomong?” “Badai akan menelanmu hidup-hidup,” jawabnya, setengah bercanda. Felisha tertawa kecil — tawa pertamanya sejak skandal itu dimulai. “Untungnya aku bukan politisi.” “Untungnya juga kamu bukan,” balas Grari. “Kalau iya, kamu gak akan kelihatan senatural Itu.” Felisha spontan menatapnya. “Kamu barusan memuji aku?” “Kalau iya?” “Telat,” katanya pelan sambil berjalan pergi, tapi bibirnya tersenyum samar. Mereka berjalan berdampingan melewati koridor panjang menuju mobil dinas. Kilatan lampu kamera masih terlihat dari kejauhan, tapi kini terasa lebih lembut — seperti dunia mulai percaya pada cerita mereka. Di depan pintu keluar, Grari berhenti. Ia menoleh ke arah Felisha. “Mulai hari ini, apa pun yang terjadi di luar, kita tetap sepakat pada satu hal.” Felisha menatapnya. “Apa itu?” “Kita jalani peran ini dengan sungguh-sungguh. Kalau dunia butuh percaya, biarkan mereka percaya. Tapi kalau nanti kamu merasa sesak… aku tidak akan memaksamu.” Felisha tidak menjawab. Ia hanya menatap cincin di jarinya, berlian kecil itu berkilau lembut di bawah sinar sore. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa beban di pundaknya sedikit lebih ringan. “Baik,” katanya akhirnya. “Tapi jangan salah paham kalau aku mulai terlalu pandai berpura-pura.” Grari tersenyum samar. “Aku lebih takut kalau kamu berhenti pura-pura.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN