Bab 1
Bandung pagi itu terasa dingin jenis dingin yang tidak menusuk aroma kopi hotel hotel dan udara segar yang baru saja turun dari bukit.
Hotel Grand Savina, berdiri tegak di jantung kawasan Dago, adalah tempat di mana keputusan besar dan gosip kecil sering lahir di ruangan yang sama.
Semuanya tampak sempurna dari luar: marmer berkilat, pintu kaca berputar, staf yang tersenyum dengan ekspresi netral—seakan tahu lebih banyak daripada yang mereka ucapkan.
Di antara tamu-tamu pagi itu, Felisha Jamil berjalan cepat melewati karpet merah marun, membawa ponsel ayahnya yang tertinggal di butik. Rambut hitamnya terikat rapi rendah, beberapa helai terlepas dan menempel di pipi karena embun pagi. Ia mengenakan midi dress krem bermotif geometris, blazer warna kopi s**u, dan sepatu hak rendah yang membuat langkahnya terdengar halus di marmer.
Tangannya memegang ponsel itu erat-erat, seolah benda kecil itu bisa menjelaskan kehadirannya di tempat seformal ini.
“Pak Haris di kamar delapan-nol-empat, ya?”
“Benar, Ibu,” jawab resepsionis dengan suara sopan khas pelatihan hotel bintang lima. “Beliau sudah naik sejak pukul tujuh. Silakan langsung ke lantai delapan.”
Felisha mengangguk singkat.
Lift terbuka dengan suara ting lembut. Di dalamnya, cermin besar memantulkan wajahnya yang tegang. Ia bukan orang yang mudah gugup, tapi ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—mungkin karena suasananya terlalu sepi, atau karena ia tahu, kamar di lantai itu bukan sekadar tempat menginap… tapi tempat ayahnya sering melakukan pertemuan politik yang “tidak perlu diketahui media”.
Felisha menatap dirinya di cermin lift. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Cuma nganterin ponsel,” gumamnya pelan, seperti mantra kecil. “Cuma itu.”
Lift berhenti.
Lantai delapan.
Koridor hotel itu panjang dan senyap, berkarpet tebal bermotif abu-abu tua. Lampu-lampu kuning di langit-langit menciptakan cahaya yang hangat tapi juga sedikit menekan. Ia berjalan menuju kamar 804—nomor yang sudah akrab di telinganya, karena itu selalu kamar yang dipakai ayahnya setiap kali ada pertemuan di Grand Savina.
Ia mengetuk pelan.
Sekali.
Lalu dua kali.
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Felisha mengerutkan kening, lalu menempelkan telinga ke pintu. Tak ada suara apa pun selain bunyi pendingin ruangan samar dari dalam.
Ia mencoba memutar gagang pintu.
Tak terkunci.
Mungkin Ayah sedang menelepon di dalam, pikirnya. Atau mungkin sedang di kamar mandi. Ia memutuskan untuk masuk pelan-pelan, hanya untuk meletakkan ponsel di meja.
Pintu terbuka dengan suara klik halus.
Udara di dalam kamar lebih hangat, beraroma sabun dan kayu cedar dari diffuser. Tirai jendela masih tertutup sebagian, tapi sinar matahari pagi menembus masuk, menciptakan bayangan lembut di dinding.
“Pah?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Felisha melangkah masuk dua langkah.
Koper terbuka di dekat sofa abu-abu, jas biru dongker tergantung di sandaran kursi, dan dasi hitam tergeletak di meja.
Ia sempat tersenyum kecil—ya, memang kamar Ayah, pikirnya. Tertata tapi sedikit berantakan. Ia berjalan ke arah meja, meletakkan ponsel itu dengan hati-hati.
Lalu ia mendengar bunyi lain.
Gemercik air.
Dari arah kamar mandi.
Bersamaan dengan itu, pintu kaca buram kamar mandi terbuka sedikit, dan seseorang keluar.
Seseorang yang bukan ayahnya.
Felisha membeku.
Pria itu tinggi, tegap, dan hanya mengenakan handuk putih yang dililit di pinggangnya. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke d**a yang kecokelatan dan berotot. Cahaya dari jendela memantul di kulitnya, membentuk kontras tajam antara tubuh hangat itu dan udara dingin di kamar.
Tatapannya terkejut—nyaris kosong sejenak, seperti tak percaya ada seseorang di sana.
Waktu berhenti sesaat.
Lalu ia berbicara, suara beratnya serak karena baru bangun.
“Siapa kamu?”
Felisha ingin menjawab, tapi mulutnya terasa kaku. “Aku… maaf, aku kira ini kamar Ayahku. Pak Haris Jamil…”
Belum sempat menjelaskan lebih jauh, tumitnya menyenggol koper besar di lantai. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Dalam sepersekian detik, ia hampir jatuh ke lantai—tapi tangan pria itu terulur cepat.
Satu tangan memegang pergelangan tangannya, satu lagi melingkar di punggungnya.
Tubuhnya jatuh tepat ke d**a pria itu.
Hangat. Basah.
Detak jantungnya terdengar di telinganya, berirama cepat, mungkin karena kaget… atau sesuatu yang lain.
Mata mereka bertemu.
Felisha bisa mencium aroma sabun maskulin bercampur wangi citrus dari kulitnya.
Waktu kembali berhenti.
Dari luar, tak seorang pun tahu bahwa di kamar 804, dua orang asing sedang berdiri begitu dekat, terlalu dekat.
Dan dari hotel seberang, sebuah kamera dengan lensa tele panjang mengklik tiga kali cepat.
Klik. Klik. Klik.
Momen itu tertangkap sempurna:
Seorang gubernur bertelanjang d**a, memeluk seorang perempuan muda di kamar hotel mewah.
“Lepas,” Felisha akhirnya berbisik, suaranya bergetar.
Pria itu melepaskannya perlahan, tapi tatapannya tetap di wajahnya. “Kamu bilang siapa tadi? Haris Jamil?”
Felisha menunduk, wajahnya merah padam. “Ya. Aku cuma mau antar ponselnya. Aku kira dia di sini…”
“Dia di bawah,” jawab pria itu datar. “Rapatnya di ruang konferensi, bukan kamar.”
Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya tajam—matanya orang yang terbiasa menghadapi krisis.
Felisha melangkah mundur, hampir tersandung lagi. “Aku… aku minta maaf.”
Ia menunduk cepat, memungut tasnya, dan bergegas keluar sebelum sempat berpikir lebih jauh.
Saat pintu tertutup di belakangnya, dunia terasa kembali berputar.
Felisha berlari kecil ke arah lift, jantungnya berdetak di tenggorokan. Ia baru saja memeluk… atau dipeluk… oleh Grari Sukma Halan.
Nama yang seluruh Jawa Barat tahu.
Gubernur petahana.
Dan calon kuat untuk periode kedua.
Sementara itu di dalam kamar, Grari masih berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja tertutup. Tetes air masih jatuh dari ujung rambutnya ke lantai. Ia menatap ke kaca, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Lalu ponsel di meja bergetar.
Notifikasi pesan masuk dari ajudannya:
“Pak, beberapa wartawan sudah menunggu di bawah. Ada gosip baru di Lambe Turah. Katanya foto Bapak di hotel beredar. Perlu kami klarifikasi?”
Grari menatap layar itu lama.
Belum sempat berpikir apa pun.
Di lift, Felisha menatap pantulan dirinya di cermin. Pipi dan lehernya masih memerah, matanya membulat, dan rambutnya berantakan.
Ia menarik napas dalam-dalam, tapi paru-parunya tak mau patuh. “Tuhan…” gumamnya. “Apa barusan itu benar-benar terjadi?”
Lift tiba di lobi. Ia keluar cepat, menyelinap melewati beberapa tamu yang baru datang. Di luar, udara Bandung terasa lebih dingin dari tadi. Ia membuka ponselnya.
Layar menyala.
Dan di sana, di unggahan terbaru akun gosip paling terkenal di Indonesia, terpampang foto dirinya—
di pelukan pria bertelanjang d**a, di kamar hotel Grand Savina.
Caption-nya:
Eksklusif! Siapa wanita misterius di pelukan Gubernur Jawa Barat di hotel mewah pagi ini?
Dunia berhenti lagi. Tapi kali ini, tidak ada d**a hangat atau tatapan dalam—hanya rasa dingin yang menjalari tulang.
Felisha tidak tahu bagaimana ia bisa sampai ke mobil.
Ia hanya ingat duduk di kursi belakang, menutup wajah dengan kedua tangan, dan tubuhnya bergetar. Antara ingin tertawa atau menangis.
Ia, perempuan yang membenci politik, yang selalu menjaga citra profesional dan reputasi butik desainnya, kini menjadi headline nasional karena satu kesalahan langkah.
Sementara itu, di lantai delapan, Grari sudah berpakaian lengkap—kemeja putih, jas abu muda, dasi navy. Wajahnya tetap tenang, tapi di matanya ada sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya: rasa takut kecil, yang bahkan politik tidak bisa ajarkan caranya dihadapi.
Ia berdiri di depan jendela, memandangi pemandangan kota Bandung yang mulai diselimuti kabut.
Suara ajudannya lewat telepon terdengar tergesa.
“Pak, ini viral. Kita perlu klarifikasi. Mau saya siapkan pernyataan?”
Grari diam lama.
Kemudian dengan suara rendah tapi tegas, ia berkata,
“Tidak sekarang. Jangan lakukan apa pun dulu. Tutup semua pintu, dan cari tahu siapa yang ambil foto itu.”
“Baik, Pak.”
Sambungan terputus.
Grari menatap keluar jendela sekali lagi, napasnya berat.
Ia tahu betul dunia politik tidak pernah memberi ruang untuk kesalahan pribadi.
Dan pagi itu, hanya karena satu langkah salah, satu ketukan pintu yang tidak dijawab, hidup dua orang yang tidak saling mengenal telah saling terjerat—tak hanya oleh kamera, tapi oleh takdir yang baru saja mulai menulis ulang cerita merek
menusuk, tapi menyelinap pelan lewat aroma kopi dari lobi