Bab 2

1534 Kata
Di layar setiap ponsel, di televisi, bahkan di grup w******p keluarga, satu gambar terpampang jelas: seorang pria bertelanjang d**a memeluk seorang perempuan muda di kamar hotel mewah. Caption-nya: “Skandal Gubernur Jawa Barat – Siapa wanita misterius ini?” Dan dunia seperti berhenti sejenak. *** Dan di rumah dinas Gubernur Jawa Barat terjadi badai tanpa angin. Ruang rapat di lantai dua rumah dinas gubernur pagi itu penuh orang. Aroma kopi pahit bercampur udara tegang. Di ujung meja, Grari Sukma Halan duduk dengan wajah tanpa ekspresi. Kemejanya masih sama dengan yang ia kenakan kemarin malam, dasinya belum terpasang. Di depannya, tiga orang penasihat politik, dua ajudan, dan kepala biro humas berdiskusi keras. “Pak, kita harus keluarkan pernyataan secepatnya!” ujar salah satu penasihat, suaranya meninggi. “Kalau kita diam, mereka yang bentuk narasi!” sambung yang lain. Radit, ajudan pribadinya, berdiri di dekat pintu, wajahnya gelisah. “Akun gosip itu baru unggah satu menit, Pak. Sekarang sudah disebar ke media nasional. Trending nomor satu. Semua orang nanya hal yang sama—siapa perempuan itu.” Grari mengangkat pandangannya perlahan. Mata hitamnya tampak lelah, tapi suaranya tenang, berat. “Kalau kita klarifikasi sekarang, mereka akan tahu kita panik.” Sejenak ruangan hening. Kepala humas, seorang perempuan berambut pendek bernama Ratri, menatapnya ragu. “Tapi Pak, foto itu jelas. Wajah Bapak terlihat. Orang-orang tahu itu kamar di Hotel Grand Savina.” Grari memijat pelipisnya, lalu berdiri. “Ratri, siapkan daftar siapa saja yang tahu saya ada di sana pagi itu. Radit, hubungi pihak hotel. Saya mau nama semua staf yang bekerja di lantai delapan.” Ia berhenti sejenak, menatap mereka satu per satu. “Dan jangan ada yang bicara ke media. Tidak satu pun.” “Baik, Pak,” jawab mereka serempak. Suasana rapat masih tegang. Salah satu penasihat muda mencoba mencairkan suasana, suaranya pelan tapi jelas. “Dengan segala hormat, Pak… karena Bapak duda, publik akan lebih liar berasumsi. Kalau perempuan itu ternyata bukan… orang biasa, mungkin kita bisa arahkan isu ini jadi positif.” Grari menatapnya datar. “Positif?” “Ya, Pak. Maksud saya… kalau kita katakan Bapak menjalin hubungan serius dengan putri salah satu tokoh partai pendukung—narasinya bisa bergeser. Dari skandal, jadi cinta yang dirahasiakan.” Semua mata di ruangan menatap pria muda itu seolah ia baru saja kehilangan akal. Tapi Grari tidak menegurnya. Ia hanya menatap kosong ke jendela besar, tempat cahaya matahari menembus tirai tipis. “Putri siapa?” tanyanya akhirnya. “Felisha Jamil, Pak. Anak dari Haris Jamil, petinggi partai pendukung Bapak.” Nama itu membuat ruangan diam. Grari menutup matanya sebentar. “Itu bukan hubungan,” katanya pelan. “Itu kesalahan. Dan aku tidak akan menjadikan kesalahan pribadi sebagai alat politik.” Lalu ia melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Radit mengikuti di belakang, matanya waspada. “Pak, Bapak mau ke mana?” “Ke kantor partai,” jawab Grari singkat. “Mereka pasti sudah mulai bersuara.” *** Sementara itu, di ruang rapat besar Kantor DPP Partai Rakyat Indonesia yang penuh asap rokok dan tawa politikus, Haris Jamil duduk di kursinya dengan wajah kaku. Ia sudah menegakkan badan selama satu jam terakhir, mendengarkan rekan-rekan separtainya bercanda tentang skandal pagi ini. “Har, kalau aku jadi kamu,” ujar salah satu anggota dengan tawa renyah, “aku udah langsung bikin press release, anakku lagi jatuh cinta sama gubernur!” Suara tawa pecah di ruangan itu. Haris tersenyum kaku, meneguk air mineralnya pelan. “Bercanda kalian gampang. Tapi kalau kalian di posisiku, pasti udah pusing tujuh keliling.” “Lha kenapa pusing?” sela politikus lain. “Kalian kan sama-sama dari kubu pendukung. Ini malah bagus, Har. Kedekatan personal dengan Gubernur bisa memperkuat koalisi partai kita di Jawa Barat.” “Selama Bapak Gubernur mau bertanggung jawab,” tambah yang lain, terkekeh, “kenapa tidak sekalian dijodohkan saja?” Tawa kembali pecah. Tapi Haris hanya menunduk, jemarinya mengetuk meja pelan. Di dalam dadanya, amarah dan kecemasan bergulat. Ia tahu betul dunia politik tidak mengenal batas antara pribadi dan panggung. Dan sekarang, putrinya—anak satu-satunya—jadi bahan candaan mereka. Ponselnya bergetar di atas meja. Nama di layar membuat jantungnya menegang: Grari Sukma Halan. Haris bangkit tanpa bicara, meninggalkan ruang rapat dengan langkah panjang. Di lorong, ia menjawab panggilan itu dengan suara rendah. “Kita perlu bicara. Sekarang.” “Di mana?” suara Grari di seberang terdengar tenang. “Rumah saya. Jangan bawa wartawan. Jangan bawa siapa pun.” *** Felisha baru saja kembali dari butik ketika ia melihat dua mobil hitam parkir di halaman rumah. Ia berhenti di depan pintu, d**a terasa sesak. Ia tahu sesuatu menunggunya di dalam. Langit Bandung mulai abu-abu, hujan sebentar lagi turun. Saat ia masuk, ruang tamu rumah itu sudah penuh dengan hawa dingin yang bukan berasal dari cuaca. Ayahnya duduk di kursi utama. Di depannya, Grari Sukma Halan berdiri dengan jas biru tua dan wajah serius. Felisha terpaku di ambang pintu, jemarinya otomatis meremas gagang tas. Haris menatapnya sebentar, lalu memberi isyarat. “Duduk.” Nada suaranya tenang tapi mengandung tekanan yang membuat lutut Felisha nyaris goyah. Ia duduk perlahan, berjarak dari keduanya. Tak seorang pun bicara selama beberapa detik, hanya suara hujan pertama yang mulai mengetuk kaca jendela. “Papah dan Grari sudah bicara,” ucap Haris akhirnya. Felisha menatap papahnya, lalu menoleh ke Grari. “Untuk apa?” “Untuk membicarakan foto itu,” jawab Haris. “Dan dampaknya pada kita semua.” Grari mengangguk singkat. “Saya sudah menahan pihak media untuk tidak memperbesar isu, tapi kita tidak bisa menghentikan internet, Pak Haris. Setiap jam, berita baru muncul.” “Dan kamu datang ke sini untuk apa?” tanya Felisha, nadanya tajam, dingin. “Menjelaskan kenapa kamu buka pintu tanpa baju?” “Cukup, Felisha,” tegur Haris cepat. Tapi Grari tetap menatapnya, wajahnya tenang tapi matanya serius. “Saya datang untuk bertanggung jawab.” Felisha menatapnya tak percaya. “Bertanggung jawab? Untuk apa? Kita bahkan gak—” “Kamu anak Haris Jamil,” potong Grari pelan. “Aku seorang gubernur yang akan mencalonkan diri lagi. Satu foto itu bisa menghancurkan lebih banyak dari sekadar reputasi.” Haris mencondongkan tubuhnya, tangan di atas meja. “Saya tahu, Grari. Dan saya juga tahu cara dunia ini bekerja. Makanya kita harus bertindak cepat sebelum orang lain mengatur narasi untuk kita.” “Papah mau bilang apa?” suara Felisha gemetar. Haris menghela napas panjang, lalu menatap putrinya dengan pandangan berat yang jarang ia tunjukkan. “Kamu akan bertunangan dengannya.” “Apa?” “Fel,” suaranya tegas. “Kita akan bilang ke publik bahwa kamu dan Grari sudah menjalin hubungan lama. Bahwa pertemuan di hotel itu adalah momen pribadi. Bukan skandal.” Felisha menatap ayahnya seolah baru mendengar hal paling absurd dalam hidupnya. “Ayah mau aku pura-pura punya hubungan sama dia? Hanya untuk reputasi kalian?” “Untuk menyelamatkan semuanya,” jawab Haris tanpa ekspresi. “Semua? Atau hanya karier politik Papah?” Pertanyaan itu menampar udara. Grari menunduk, tidak berani memotong. Haris menatap anaknya dalam-dalam. “Felisha, kamu pikir ini cuma tentang Papah? Tentang partai? Ini tentang nama kita. Tentang kamu juga. Tentang harga dirimu di mata publik.” Felisha tertawa kecil, getir. “Harga diri? Jadi solusinya adalah menikah dengan orang yang bahkan gak aku kenal dengan benar?” “Felisha,” suara Haris mulai meninggi. “Kamu tahu konsekuensi kalau kita biarkan ini berlarut? Kamu akan terus diburu media, mereka akan menuduh kamu macam-macam. Mereka akan menghancurkan butikmu. Reputasimu.” Felisha menatap ayahnya, air matanya mengalir tanpa sadar. “Aku bisa kehilangan reputasi, tapi setidaknya itu pilihanku sendiri.” Grari akhirnya angkat bicara, suaranya pelan tapi tegas. “Pak Haris benar, Felisha. Dunia ini tidak adil. Kita tidak bisa menang dengan kebenaran, tapi kita bisa bertahan dengan cerita.” Felisha menatapnya dengan mata basah. “Dan kamu, Pak Gubernur, memilih cerita yang paling aman buat kariermu.” “Tidak,” jawabnya lirih. “Aku memilih jalan yang paling sedikit menghancurkan kita berdua.” Keheningan jatuh lagi. Hanya suara jam dinding dan hujan yang terdengar. Akhirnya Haris berdiri. “Saya akan siapkan tim media. Kalian berdua tidak bicara apa pun ke pers. Dalam waktu seminggu, kita umumkan rencana pernikahan kalian.” Felisha mendongak tajam. “Aku gak akan menikah!” Haris menatapnya lurus. “Kamu tidak punya pilihan, Felisha Jamil.” Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang di tenggorokan. Ia memejamkan mata, lalu bangkit dari kursinya dan berlari keluar ruangan. Di luar rumah, hujan turun deras. Felisha berdiri di teras, tubuhnya gemetar bukan karena dingin, tapi karena amarah yang ia tahan sejak pagi. Ia mendengar langkah kaki dari belakang. Grari. Pria itu berdiri satu meter darinya, tak membawa payung, hanya diam. Air hujan membasahi bahunya, tapi ia tidak peduli. Felisha berbalik, matanya merah. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” “Apa?” “Kamu bahkan gak minta maaf.” Grari terdiam lama. Lalu akhirnya berkata, “Sejujurnya aku tak merasa salah.” Felisha menatapnya, perkataannya benar juga. Ia juga dipinjami Papahnya kamar itu. “Baiklah, tidak perlu.” Hujan semakin deras. Dan di bawah langit yang kelabu, dua orang yang tak pernah memilih satu sama lain berdiri diam — sadar bahwa sejak pagi itu, hidup mereka sudah bukan milik mereka lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN