Bab 18

1000 Kata

Angin laut masih berembus pelan ketika malam turun di Pangandaran. Suara ombak terdengar dari luar villa, ritmis, seperti detak jantung yang besar dan sabar. Lampu gantung di teras menyala lembut, menerangi meja makan kecil tempat dua piring nasi, ikan bakar, dan segelas jus jeruk diletakkan dengan rapi. Felisha mengenakan dress putih santai, bahunya terbuka sebagian, rambutnya terurai longgar. Kulitnya masih terasa asin oleh semilir laut sore tadi, namun senyumnya lembut — senyum yang muncul bukan karena dipaksa, tapi karena perasaan yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari. Di seberangnya, Grari duduk dengan kemeja linen abu muda, lengan digulung sampai siku. Ia tampak lelah tapi lebih hidup dibanding biasanya. Cahaya lampu membuat kulitnya tampak keemasan, dan garis rahangnya tegas s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN