Caca terbangun dari tidurnya. Pertama kali pemandangan yang dia lihat adalah pria yang sudah menorehkan luka di hatinya untuk kesekian kalinya. Matanya yang sembab menatap ke arah Andra dan tanpa terasa ia kembali meneteskan air mata lagi. Bagaimana ia tidak menangis lagi ketika ia mengingat kejadian semalam. Wanita itu menangis bukan karena kejadian mengerikan yang ia alami semalam, tapi ada hal yang lebih besar lagi. Caca mulai membenci dirinya sendiri. Ia benci kenapa ia tidak bisa kabur dari rumah Andra ini. Di samping itu ia juga membenci kenapa ia malah tidak bisa membenci Andra. Rasa cinta di dalam hatinya sudah susah payah ingin ia sembunyikan, bahkan jika bisa rasa itu ingin ia buang sejauh-jauhnya. Namun, pada kenyataannya rasa itu masih utuh. Isakan Caca kembali terdengar

