Setelah mendengar penjelasan dari kedua orang tuanya, Andra kembali berlari ke kamarnya. Jantungnya berdetak semakin kencang seakan ingin lompat dari tempatnya. Ia kembali membuka pintu kamarnya dengan perlahan karena pria itu tidak ingin membuat tidur putranya terganggu. Setelah berada di sisi ranjang, Andra pun langsung bersimpuh agar bisa melihat dengan jelas wajah anak yang ia kira sudah berada di surga. Hatinya saat ini ingin meledak, tapi ia harus bisa menahannya agar tidak mengejutkan Kai. “A … anak ku, dia anak ku!” lirih Andra. Tangannya ingin mengusap wajah polos yang tampak sedang memejamkan matanya itu. Namun, ia mengurungkannya. Tangannya seketika menggantung di udara. Tanpa ia sadari tangannya terlihat gemetar hebat. Sebenarnya ingin sekali ia memeluk bocah laki-laki y

