Sudah dua bulan ini Ara pergi. Sudah dua bulan ini pula, Adhia menunggu kedatangan Tarendra. Entah kenapa, sudut hatinya menginginkannya untuk kembali bersama Tarendra. Adhia tahu, Tarendra tiap pagi ke makam Ara. Tapi dia tidak pernah mampir ke panti untuk menemuinya. Padahal jarak dari pemakamam ke panti, tidaklah jauh. Hanya lima belas menit berkendara. Apakah ada yang salah? Tidakkah Tarendra tahu, bahwa dia memendam rindu yang teramat sangat? Kenapa Tarendra seperti menghindarinya? Seperti hilang ditelan bumi? Setelah Ara pergi, satu-satunya lelaki yang hadir di mimpinya adalah Tarendra. Jauh di sudut hati Adhia, dia tidak bisa mengingkari bahwa masih Tarendra-lah, masih satu-satunya, yang menghuni hatinya. Adhia bahkan sudah memberi sinyal bahwa cukuplah sepuluh tahun ini saja dia

