"Jangan pergi Ara...! Jangan nak...! Maafkan ayah nak, ayah baru saja berusaha menjadi seorang ayah yang baik untukmu. Beri ayah kesempatan, Ara. Tolong... tolooong...!" Suara Tarendra melemah. Dia tahu, batas waktu Ara akhirnya tiba. "Ara... ikuti ibu ya nak..." Adhia membimbing Ara agar bisa mengucap kalimat tauhid. Hanya sekali saja. Dan kemudian alat bantu Ara berbunyi nyaring. _________________________ Tarendra menjerit, seperti tidak terima. Dia segera menekan-nekan d**a Ara. Mencoba agar denyut jantung Ara kembali terdengar. Memohon dengan sangat agar terjadi keajaiban dari Yang Maha Memberi Hidup. Tapi Ara memang sudah pergi, pergi selamanya dari mereka. Tarendra melihat ke arah Adhia dengan bingung. *** "Ren..., segera beri tahu dokter yang akan mengoperasi mata Ara. Aku tadi

