Saat Kamania minum air putih, Rajata datang dengan kerah kemeja yang belum dirapikan. Pria itu mendekat, dengan dasi tersampir di lengan kiri. Kemudian menyerahkan pada Kamania, dengan wajah yang serius. “Pasangkan.” Tidak ada manisnya sama sekali dalam meminta, tapi Kamania saja yang tersenyum-senyum. Dengan lamat ia mengangguk, lalu mengambil alih dasi, setelah meletakkan gelas di atas meja. “Tuan Aja bisa pasang sendiri. Kenapa minta pasangin?” “Supaya kau ada kerjaan.” “Ini hampir sarapan, lho. Kamania mau makan.” “Sebentar. Setelah selesai, kita sarapan bersama.” Rajata mencondongkan tubuh saat Kamania berjinjit. Gadis itu selalu kesulitan karena perbedaan tinggi mereka. Hal itu membuat Rajata terkadang mendengkus geli, namun menikmati wajah kesusahannya. “Selain kurus, tinggi bad