bc

Menikahi Paman Sang Mantan

book_age16+
99
IKUTI
1K
BACA
revenge
contract marriage
family
HE
friends to lovers
arranged marriage
heir/heiress
drama
city
like
intro-logo
Uraian

Di hari yang seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidupnya, Keyla (22 tahun) justru menyaksikan pengkhianatan paling kejam. Tunangannya, Rian, berselingkuh dengan sahabat karib Keyla sendiri di dalam ruang ganti pengantin. Tidak hanya dikhianati, Keyla bahkan diusir dan dipermalukan oleh keluarga Rian yang kaya raya.

Terluka dan murka, Keyla bersumpah akan membuat mereka merangkak memohon ampun. Di tengah guyuran hujan badai malam itu, takdir mempertemukannya dengan Arkan (34 tahun)—seorang pria dingin, berkuasa, pemilik tunggal Arkan Group, sekaligus... paman kandung yang paling ditakuti oleh Rian.

"Bantu aku membalas dendam, dan aku akan memberikan apa pun yang Anda inginkan," bisik Keyla nekat.

Arkan menyeringai, "Apa pun? Termasuk menjadi istriku dan melahirkan pewarisku?"

Pernikahan kontrak pun dimulai. Rian yang awalnya meremehkan Keyla, kini harus menundukkan kepala dan memanggil mantan kekasihnya itu dengan sebutan: "Tante Muda". Namun, saat balas dendam mulai terlaksana, Keyla baru menyadari bahwa Arkan tidak sedingin yang ia kira. Pria itu justru sangat posesif dan menjaganya dengan obsesi yang berbahaya.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: Gaun Pengantin yang Ternoda
Aroma mawar putih yang segar memenuhi setiap sudut ruang tunggu pengantin di hotel bintang lima itu. Keyla menatap pantulan dirinya di cermin besar setinggi langit-langit. Gaun pengantin putih pualam berbahan brokat premium yang melekat di tubuhnya tampak begitu sempurna, mempertegas lekuk tubuhnya yang anggun. Hari ini adalah hari yang paling ia tunggu-tunggu dalam hidupnya. Hari di mana ia akan mengikat janji suci dengan Rian, pria yang telah menemaninya selama tiga tahun terakhir, sejak mendiang ayahnya tiada. "Kamu cantik sekali hari ini, Key. Rian pasti tidak akan bisa mengalihkan pandangannya darimu," bisik perias pengantin dengan senyuman tulus sebelum pamit keluar ruangan. Dia meninggalkan Keyla sendirian dengan debaran jantung yang tak karuan di dalam ruangan VIP yang sunyi itu. Keyla tersenyum manis, menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia melirik jam dinding berlapis emas di ruangan itu. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum acara pemberkatan dan resepsi megah dimulai. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya yang naif. Di usianya yang baru 22 tahun, Keyla ingin memberikan kejutan kecil untuk pria yang dicintainya. Dengan langkah anggun namun sangat hati-hati agar gaun panjangnya tidak kusut, Keyla melangkah keluar menuju ruang ganti khusus mempelai pria yang berada di ujung lorong VIP gedung ini. Koridor lantai VIP itu tampak begitu sepi. Namun, saat Keyla mendekati pintu kayu tebal yang sedikit terbuka di ujung lorong, pendenangannya menangkap suara-suara yang aneh. Suara tawa pelan yang genit, disusul oleh desahan manja yang sangat ia kenali. Jantung Keyla seolah berhenti berdetak seketika. Ia membeku tepat di depan celah pintu, menahan napasnya dengan tubuh yang mendadak mendingin. "Ah, Rian... pelan-pelan. Bagaimana kalau Keyla tiba-tiba masuk dan melihat kita?" Suara manja itu milik Tyas—sahabat karibnya sendiri sejak masa kuliah, wanita yang bahkan berdiri sebagai pengiring pengantinnya hari ini. "Tenang saja, Sayang. Gadis bodoh itu pasti sedang sibuk dandan di ruangannya," jawab sebuah suara berat yang sangat familier. Suara Rian, pria yang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya. "Lagipula, setelah tanda tangan akta nikah hari ini, semua aset perusahaan mendiang ayahnya akan resmi jatuh ke bawah kendaliku. Setelah harta itu aman, aku tinggal mencari alasan untuk menceraikannya dan langsung menikahimu secara resmi." Brak! Keyla tidak bisa menahan gelombang amarah yang menghantam dadanya lagi. Ia mendorong pintu kayu tebal itu dengan kasar hingga menghantam dinding dengan bunyi dentuman yang keras. Pemandangan di dalam ruangan itu membuat seluruh dunia Keyla runtuh seketika menjadi serpihan tak berharga. Rian dan Tyas sedang berpelukan mesra di atas sofa kulit, dengan pakaian pengantin yang sudah setengah berantakan. "Key-Keyla?!" Rian langsung melompat berdiri, wajahnya pucat pasi seolah-olah baru saja melihat hantu di siang bolong. Di belakangnya, Tyas dengan panik merapikan gaunnya, namun matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah—justru ada kilat kemenangan dan ejekan yang tersirat di sana. "Jadi... ini alasan kamu terus-menerus memintaku menyerahkan berkas warisan perusahaan ayu belakangan ini, Rian?" Suara Keyla bergetar hebat. Bukan karena dia rapuh, melainkan karena amarah yang luar biasa dahsyat hingga membakar habis seluruh rasa cintanya. Air mata meluncur deras merusak riasan wajahnya, namun tatapannya menajam bagai mata pisau. "Key, ini tidak seperti yang kamu lihat! Aku bisa jelaskan—" Rian melangkah maju dengan panik, mencoba meraih pergelangan tangan Keyla untuk membujuknya seperti biasa. Plak! Satu tamparan keras kedengaran bergema di dalam ruangan, mendarat tepat di pipi kanan Rian, menyisakan bekas kemerahan yang kontras dengan jas pengantinnya yang mewah. "Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu yang menjijikkan itu!" desis Keyla dengan suara tajam yang bergetar. Ia menatap Rian dan Tyas bergantian dengan tatapan paling muak. "Pernikahan ini batal. Dan pastikan kalian berdua mengingat hari ini, karena aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang setelah apa yang kalian lakukan!" Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan lebih lanjut, Keyla berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan lorong VIP. Ia mengabaikan teriakan panggilan Rian, mengabaikan tatapan bingung para staf gedung dan tamu undangan yang mulai berdatangan, dan terus berlari keluar menembus pintu kaca utama hotel. Di luar, langit sore seolah mendukung kehancuran hatinya. Hujan badai langsung mengguyur bumi dengan sangat deras disertai angin kencang. Keyla terus melangkah menerobos hujan, membiarkan gaun pengantin putihnya yang indah kini basah kuyup, terasa sangat berat, kotor, dan ternoda oleh lumpur jalanan kota yang dingin. Jiwanya hancur, namun di dalam reruntuhan hatinya yang paling dalam, sebuah emosi baru lahir dengan begitu kuat: balas dendam. Hujan deras malam itu terasa seolah jarum-jarum es yang menghantam kulit Keyla yang mulai memucat. Ia terus berjalan tanpa arah di sepanjang trotoar jalanan protokol yang sepi. Rasa sakit karena dikhianati oleh dua orang terdekatnya masih membakar d**a, namun rasa syok itu kini mulai sepenuhnya berganti menjadi amarah yang sedingin es. Tiiiiiinnnn! Suara klakson mobil yang sangat nyaring tiba-tiba membelah suara gemuruh hujan, disusul suara decitan ban yang bergesekan kasar dengan aspal basah. Sebuah mobil sedan Rolls-Royce hitam yang sangat mewah berhenti mendadak, hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari tubuh Keyla yang membeku. Lampu sorot mobil yang menyilaukan membuat Keyla terpaksa mengangkat tangan untuk melindungi matanya yang perih. Tubuhnya yang sudah lemas dan kedinginan akhirnya kehilangan keseimbangan, membuatnya terduduk pasrah di atas trotoar yang basah kuyup. Pintu kemudi bagian belakang mobil mewah itu terbuka. Seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi keluar menembus derasnya hujan sambil memegang sebuah payung besar. Langkah kakinya terdengar sangat tegas dan berwibawa di atas genangan air. Pria itu mendekat secara perlahan, lalu mengarahkan payungnya untuk melindungi tubuh Keyla dari guyuran air hujan yang dingin. Keyla mendongak secara perlahan dengan sisa tenaganya. Di balik rintik air yang jatuh, ia melihat siluet seorang pria berwajah tegas dengan rahang kokoh, memiliki tatapan mata yang sangat tajam sekaligus sedingin es. Pria itu adalah Arkan. Di usianya yang menginjak 34 tahun, Arkan memancarkan aura otoritas, kekayaan, dan kekuasaan yang sangat kuat—tipe pria kelas atas yang sanggup membuat siapa pun menundukkan kepala hanya dengan satu tatapan matanya yang intimidatif. Arkan menatap gadis berusia 22 tahun di bawah payungnya dengan alis yang berkerut dalam. Dia sangat mengenali wajah itu. Keyla, gadis yang seharusnya hari ini menikah dengan keponakannya yang tidak tahu diri dan serakah, Rian. Namun, melihat penampilan Keyla yang kacau balau, rambutnya yang kusut, serta gaun pengantinnya yang ternoda lumpur hitam, Arkan langsung tahu bahwa pernikahan itu telah hancur berantakan. "Apa yang sedang dilakukan oleh calon istri keponakanku di jalanan sepi dan badai seperti ini?" Suara Arkan terdengar berat, dingin, namun entah mengapa terdengar sangat solid dan menenangkan di telinga Keyla yang sedang terguncang hebat. Keyla mengepalkan tangannya di atas aspal yang basah. Mendengar nama Rian disebut oleh pria itu, kilat amarah kembali menyala di matanya yang sembap. Tanpa memedulikan rasa takutnya, ia bergerak maju dan mencenckeram ujung celana kain mahal milik Arkan dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. "Aku... bukan calon istrinya lagi," bisik Keyla dengan suara serak yang basah, namun penuh dengan penekanan yang mutlak. "Pernikahan itu sudah batal. Rian dan seluruh keluarganya... mereka semua adalah iblis penipu yang serakah." Arkan sama sekali tidak tampak terkejut mendengar ucapan itu. Dia sudah sejak lama tahu betapa buruk dan serakahnya sifat keluarga Rian yang selalu memanfaatkan nama besar Arkan Group untuk bisnis kotor mereka. Namun, melihat kilat balas dendam yang begitu pekat dan murni di mata gadis muda yang ada di hadapannya ini, Arkan merasa sangat tertarik. Jarang sekali ada orang, terutama seorang gadis muda, yang berani menatapnya dengan intensitas sekuat itu di tengah kondisi fisik yang sudah sehancur ini. Arkan perlahan ikut berjongkok di atas trotoar basah itu, membuat wajahnya yang tampan kini berada sejajar dengan wajah Keyla yang pucat. "Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang untuk membalas mereka, Gadis Kecil?" Keyla menatap langsung ke dalam manik mata hitam yang dalam milik Arkan. Dia tahu betul siapa pria di hadapannya ini dari cerita mendiang ayahnya dulu. Arkan adalah pemilik tunggal dari Arkan Group, pria paling kaya dan berkuasa di keluarga besar mereka, dan satu-satunya sosok yang paling ditakuti oleh Rian bagaikan dewa kematian yang memegang kendali atas hidupnya. Jika dia ingin menghancurkan Rian dan seluruh sekutunya sampai ke akar-akarnya, pria di hadapannya inilah satu-satunya kunci yang nyata. "Bantu aku," desis Keyla dengan nekat, mengabaikan seluruh akal sehatnya demi memuaskan rasa dendam yang membakar jiwanya. "Bantu aku membalas dendam pada mereka semua hingga mereka merangkak di bawah kakiku. Aku bersedia melakukan apa pun yang Anda inginkan, Tuan Arkan." Sudut bibir Arkan terangkat sedikit ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat misterius, dingin, sekaligus berbahaya. "Apa pun?" Arkan berbisik dengan nada suara yang sangat rendah, terdengar begitu intim sekaligus mengintimidasi pendengaran Keyla. "Termasuk menandatangani kesepakatan hitam di atas putih untuk menjadi istri sahku, dan melahirkan seorang anak sebagai pewaris tunggal dari Arkan Group?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
794.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
373.5K
bc

Not just, the Beta

read
357.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook