Adnan melihat Lidia Natalia mulai terlelap di atas pangkuannya. Pria itu mengecup keningnya dan bibirnya perlahan. "Tok! Tok! Tok!" Seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya. Adnan tidak ingin membangunkan Lidia dari atas pangkuannya. Dia merasa senang sekali karena istrinya mau bermanja padanya. Dan itu baru ia rasakan sekarang. "Masuklah." Sahut Adnan tanpa bangkit dari posisi duduknya. Asisten wanita masuk ke dalam dengan berkas di tangan. "Presdir, ini berkas yang perlu anda tinjau hari ini. Dan juga ada jadwal meeting lagi malam ini satu jam lagi. Anda tidak lupa kalau ada janji temu dengan klien kan?" Tanya asistennya tersebut seraya menunggu tanda tangan Adnan. "Hem." Sahutnya singkat karena tidak ingin membangunkan istrinya dari atas pangkuannya. Lalu menyerahkan berkas ter

