Lidia masih berbaring di atas tempat tidur pasien. Ada selang infus tersambung pada lengannya. Tubuhnya juga masih lemas, Adnan menjaga wanita itu di sebelahnya. "Aku nggak akan ceraikan kamu Lidia. Aku sayang sama kamu. Aku bisa mati jika kamu pergi." Ujar pria itu seraya menggenggam erat jemari tangannya. Lidia terdiam mendengar ucapannya, dari wajah Adnan tersirat jelas ketulusan dari sinar kedua bola matanya. Pria itu tidak main-main dengan ucapanya barusan. "Sekarang aku tanya, kamu cinta nggak sama aku? Apa kamu masih tetap berkeras hati untuk kembali pada Leno putra tirimu?" Terlihat jelas kemarahan dari wajah Adnan. Kemarahan bercampur dengan kesedihan. Lidia menelan ludahnya melihat kemarahan tersebut. Jika dia meminta cerai, atau bilang tidak mencintainya bisa-bisa pria it

