Di dalam kamar yang kini terasa jauh lebih hangat, Nicko masih saja terjaga. Jam dinding terus berdetak, menunjukkan pukul tiga dini hari, akan tetapi kelopak matanya seolah menolak untuk terpejam. Di pelukannya, Nona Lucy tertidur sangat pulas, begitu pulas hingga napasnya yang teratur terasa seperti melodi paling menenangkan yang pernah Nicko dengar. Tangan Nicko lalu bergerak dengan lembut, jemarinya menyisir helai demi helai rambut wangi stroberi itu dengan penuh kehati-hatian. Namun, di balik kedekatan yang ia rasakan ini, hati Nicko tidak sepenuhnya tenang. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, dan pikiran-pikiran buruk mulai merayap masuk. Apakah ini nyata? Ataukah ini hanya sebuah anugerah sementara sebelum takdir buruk kembali merenggutnya? Rasanya seperti mimpi, sesuatu y

