Lantai marmer di kediaman Nona Lucy biasanya berkilau bersih, mencerminkan satu kemewahan yang tak tersentuh oleh dunia luar. Namun kini, bagi Nicko, setiap sudut rumah tersebut hanya mengingatkannya pada genangan darah yang merenggut masa depan mereka. Maka dari itu, Nicko selalu menghindari tempat itu dan justru menghabiskan hari-harinya dalam sunyi yang mencekam. Ia lebih sering duduk di samping ranjang rumah sakit tempat Nona Lucy terbaring koma, menatap selang-selang yang menopang hidup wanita itu, sembari meratapi dirinya sendiri. “Maafkan aku, Nona. Aku gagal menjagamu. Aku gagal menjaga bayi kita," bisik Nicko berulang kali hingga suaranya serak. Penyesalan itu terasa seperti mengikis sedikit demi sedikit sisi baik yang ada di dalam dirinya. Pikiran tentang membalas dan membunuh o

