Kesadaran Nicko kembali dengan rasa pahit yang tertinggal di pangkal lidahnya. Saat ia membuka mata, langit-langit putih rumah sakit menyambutnya, tapi ia tidak membiarkan dirinya terbaring lebih dari satu detik. Mengabaikan teriakan protes dari tubuhnya yang remuk, ia mencabut paksa jarum infus di tangannya hingga darah merahnya memercik ke sprei putih. Ia harus pulang. Ada pengkhianat yang masih menghirup udara dengan tenang, dan Nicko tidak akan membiarkan itu terjadi. Tiga puluh menit kemudian, kediaman Nona Lucy yang biasanya damai berubah menjadi seperti di neraka. Nicko berdiri di tengah aula besar, napasnya menderu seperti badai. Di depannya, seluruh pelayan, tukang kebun, hingga pengawal rumah berbaris dengan wajah pucat pasi. Aura yang dipancarkan Nicko saat itu bukan lagi

