Kegelapan pada malam itu terasa lebih mencekik dari biasanya. Di dalam kamarnya yang sunyi dan dingin, Nicko terjebak dalam pusaran mimpi buruk yang datang berulang kali. Ia kembali ke ruang bawah tanah yang mengerikan itu, melihat bayangan Nona Lucy yang bersimbah darah, mendengar tangisan bayi yang tak pernah ia lihat wajahnya, dan merasakan tangannya terikat sangat kuat, sementara ia hanya bisa menonton dunianya hancur dan tidak mampu melakukan apa pun. Tidak berdaya. Tidak diizinkan menyematkan semuanya. “Tidak ... tidak ....” Nicko mengigau, keringat dingin membasahi pelipisnya. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang tengah menghimpitnya. Tepat pada saat itulah, tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di keningnya. Tangan itu terasa sangat dingin, t

